Febrian Putra, pendiri Animal3 Creative (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Tumbuh di era sebelum internet menjadi bagian kehidupan, media massa menjadi satu-satunya tumpuan. Entah majalah maupun tabloid, seakan menjadi pemuas dahaga akan informasi dari dunia luar. Hal itulah yang dirasakan Ditra.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, pemilik nama lengkap Febrian Putra ini sudah tertarik dengan dunia desain dan arsitektur sejak awal 2000-an. Kala itu, tabloid dan majalah dia lahap hanya agar berbagai rasa penasarannya terjawab.
"Seperti apa dunia desain? Bagaimana orang-orang di kota besar bekerja? Dan, yang paling penting, apa yang harus dipersiapkan jika ingin menjadi bagian dari dunia tersebut," demikian sederet pertanyaan yang kerap menghantui Ditra.
Sebagai anak yang tumbuh jauh dari pusat kota, Ditra mencoba mengirim surat kepada Ikatan Arsitek Indonesia. Dia bertanya lebih jauh tentang hal-hal yang harus disiapkan untuk menjadi seorang arsitek. Sayangnya, surat yang mengudara lewat pos itu tak pernah dibalas.
Tapi, surat tak terbalas bukan akhir dari impian Ditra. Justru, ini menjadi awal perjalanannya. Selepas SMA, dia mencoba peruntungan masuk jurusan arsitektur di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sayang, upayanya gagal. Dia malah diterima di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di sinilah Ditra mengenal beberapa bidang dalam DKV, termasuk desain grafis, multimedia, dan advertising. Dari ketiganya, advertising justru terasa paling menarik, karena bagi Ditra, program studi ini memberikan ruang bagi proses berpikir dan pencarian ide.
"Advertising itu modal ngide, terus model mikir kreatif. Ini menarik saya," ujar Ditra.
Perlahan, pandangan Ditra tentang industri kreatif mulai terbentuk. Dia belajar bahwa sebuah iklan tidak sekadar persoalan membuat sesuatu terlihat menarik. Ada proses memahami audiens, menemukan persoalan, menyusun strategi, kemudian menerjemahkan gagasan menjadi komunikasi yang tepat.
Pengalaman magang di sejumlah agensi juga memperkenalkannya pada dunia profesional. Bahkan sebelum menyelesaikan kuliah, Ditra mulai mendapatkan pengalaman bekerja di industri advertising.
Setelah lulus, perjalanan tersebut berlanjut ke sejumlah agensi multinasional dan lokal. Ia pernah menjadi bagian dari BBDO, McCann Worldgroup, J. Walter Thompson (JWT), hingga Dentsu.
Selama berkarier, Ditra tak hanya mengasah kemampuan dan mengembangkan ide, namun juga berkesempatan mengerjakan karya-karya yang mendapat pengakuan di industri. Sejumlah karya dari berbagai brand global yang dikerjakannya bersama tim, berhasil memenangkan beberapa penghargaan advertising, baik di tingkat lokal maupun internasional.
Perjalanan Ditra tak terlepas dari dukungan pendidikan yang pernah diterimanya. Ketika kuliah di ITB, Ditra merupakan salah satu penerima beasiswa Tanoto Foundation.
Saat menjadi penerima beasiswa Tanoto Foundation, Ditra juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan pengembangan yang memungkinan dia memperoleh pengalaman baru di luar ruang kelas, sekaligus membantunya melihat lebih luas kemungkinan yang bisa dikembangkan selama masa kuliah.
Baginya, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari bekal yang kemudian ia bawa ketika mulai memasuki dunia profesional.
Bagi Ditra, beasiswa tersebut memiliki arti yang sangat penting. Ayahnya telah meninggal ketika Dia masih duduk di bangku SMA dan ibunya kemudian menjadi orang tua tunggal.
Dukungan beasiswa tersebut menjadikan beban keluarga Ditra menjadi lebih ringan. Terlebih lagi, dia juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan membangun jejaring dengan penerima beasiswa lainnya.
"Saya ini tahu Tanoto Foundation itu rapi banget secara organisasi dan programnya. Saat pelatihan, kami juga bisa menjalin komunikasi dengan semua penerima beasiswa, termasuk dengan para alumni sehingga kami bisa membangun networking," kata Ditra.
Dari sinilah, ada satu hal yang terus muncul dalam perjalanan Ditra, kesempatan. Kesempatan untuk belajar serta bertemu orang baru. Termasuk, kesempatan untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.
Ditra sempat menjajaki karier sebagai karyawan agensi multinasional. Namun, di tengah jalan dia memutuskan untuk membangun perusahaan yang sepenuhnya dia rancang sendiri. Lalu, Ditra mendirikan Animal3 Creative pada 2022, sekaligus komitmennya keluar dari zona nyaman.
Menjadi pendiri agensi, lanjut Ditra, menghadirkan tantangan berbeda. Dia tidak lagi hanya memikirkan pekerjaan kreatif, tetapi juga harus memahami bisnis, mengelola orang, dan membangun organisasi.
Namun, pengalaman tersebut juga memperluas perspektifnya tentang industri kreatif. Ditra semakin melihat bahwa industri advertising membutuhkan talenta dengan cara berpikir yang terbuka. Tidak harus berasal dari kota besar, tidak harus memiliki latar belakang tertentu, dan tidak harus sejak awal sudah mengetahui bahwa dirinya akan bekerja di industri kreatif.
Pandangan itu pula yang kemudian membawanya kembali kepada anak-anak SMA dan SMK. Dia melihat bahwa banyak talenta potensial belum pernah bersentuhan dengan industri kreatif, hanya karena belum memiliki akses untuk mengenalnya, termasuk para pelajar di daerah asalnya, Rembang.
Ditra mulai membuat program pengenalan advertising bagi para pelajar Rembang. Materinya tidak rumit. Dia memperkenalkan cara industri advertising bekerja, berkomunikasi, memahami audiens, serta mengembangkan ide menjadi kampanye.
Tujuannya bukan membuat semua peserta menjadi advertiser. Justru sebaliknya, Ditra ingin mereka mengetahui bahwa keterampilan kreatif dapat digunakan dalam banyak bidang.
"Setidaknya saya ingin kasih informasi, lo bisa melakukan banyak hal nanti," ujar Ditra.
Ditra menganggap bahwa pengetahuan tentang advertising juga bisa membantu anak muda memahami cara berkomunikasi, membangun usaha, membuat produk, maupun mengembangkan berbagai kegiatan kreatif.
Hal ini dia kemukakan karena kerap melihat ada anak-anak di daerah yang memiliki kemampuan kreatif, tetapi belum mengetahui cara kemampuan tersebut dapat dikembangkan.
Karena itu, akses menjadi hal yang penting. Di saat anak-anak yang tinggal di kota besar lebih mudah menemukan informasi mengenai sekolah desain, industri kreatif, agensi advertising, atau berbagai profesi baru, bagi anak di daerah, informasi tersebut bisa jadi belum pernah sampai.
Akhirnya, surat Ditra memang tak pernah terbalas. Tapi, dia datang membalas surat-surat yang mungkin belum pernah dikirim oleh anak muda Rembang yang ingin tahu lebih banyak tentang dunia kreatif dan advertising.
Selasa, 08/09/2026 22:12 WIB
Selasa, 08/09/2026 20:24 WIB
Selasa, 08/09/2026 19:59 WIB