https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Dari Budak hingga Guru Tasawuf, Ini Perjalanan Rabiah al-Adawiyah

Muhammad Habib Saifullah | Selasa, 08/09/2026 21:05 WIB



Rabiah al-Adawiyah merupakan tokoh perempuan yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan tasawuf Islam pada abad ke-8 Masehi di Basra, Irak. Ilustrasi Rabiah al-Adawiyah (Foto: Wikipedia)

Jakarta, Jurnas.com - Rabiah al-Adawiyah merupakan tokoh perempuan yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan tasawuf Islam pada abad ke-8 Masehi di Basra, Irak.

Ia dikenal luas sebagai pelopor ajaran mahabbah, yakni konsep beribadah yang didasari rasa cinta tulus kepada Allah SWT tanpa didorong rasa takut akan neraka maupun harapan atas surga.

Meskipun menempuh perjalanan hidup yang penuh keterbatasan dan pernah menjadi budak, kedalaman spiritual serta keikhlasannya menjadikan Rabiah sebagai rujukan para ulama dan tokoh sufi pada zamannya.

Baca juga :
Rabiah al-Adawiyah, Sufi Perempuan Pelopor Cinta Ilahi dalam Islam

Rabiah lahir dari keluarga miskin sebagai anak keempat, sehingga diberi nama Rabiah yang berarti "keempat". Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Basra mengalami krisis pangan yang membuat Rabiah terpisah dari keluarganya hingga dijual menjadi budak.

Saat menjadi budak, Rabiah tetap konsisten beribadah dan rutin mendirikan salat malam. Ketekunan dan kekhusyukannya memicu rasa hormat dari majikannya, yang kemudian memutuskan untuk membebaskannya.

Baca juga :
10 Tokoh Muslim yang Mengubah Sejarah Dunia, dari Nabi hingga Ilmuwan

Setelah mendapatkan kemerdekaan, Rabiah memilih hidup sederhana dengan memfokuskan diri pada ibadah, puasa, zikir, dan tafakur. Kedalaman pemahaman spiritualnya membuat banyak ulama dan ahli ibadah datang untuk berguru kepadanya.

Garis besar ajaran Rabiah berpusat pada pemurnian niat dalam beribadah. Menurutnya, penghambaan kepada Tuhan harus didasari oleh cinta murni karena Allah memang layak disembah, bukan sekadar mengejar imbalan atau menghindari hukuman.

Baca juga :
Kisah Kehidupan Habib Umar bin Hafiz, Ulama Karismatik dari Yaman

Sepanjang hidupnya, Rabiah memilih untuk tidak menikah agar seluruh perhatiannya terfokus pada ibadah. Ia menolak secara halus berbagai lamaran dari tokoh-tokoh terpandang pada masa itu. Selain itu, ia menerapkan pola hidup sangat hemat dan menolak akumulasi harta benda.

Rabiah al-Adawiyah wafat sekitar tahun 801 Masehi di Basra. Konsep cinta ilahi yang diusungnya menjadi salah satu fondasi utama dalam tradisi tasawuf dan tetap dipelajari dalam literatur Islam hingga saat ini.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Rabiah al Adawiyah Tokoh Muslim Sufi Perempuan Tasawuf Mahabbah

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777