Ilustrasi - Fenomena El Nino (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - El Nino kini menunjukkan kekuatan yang tidak biasa dalam sejarah iklim. Studi terbaru menemukan bahwa fenomena pemanasan di Samudra Pasifik tropis itu hampir 40 persen lebih kuat dalam empat dekade terakhir dibandingkan El Nino yang terjadi sebelum era industri.
Lebih jauh, El Nino pada periode modern disebut lebih kuat dibandingkan seluruh kejadian yang tercatat selama sekitar 1.000 tahun sebelumnya. Peneliti menilai perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya suhu global.
Temuan itu diperoleh peneliti dari University of Michigan setelah merekonstruksi sejarah El Nino selama satu milenium menggunakan terumbu karang di Kepulauan Galápagos.
Peneliti mengambil sampel inti dari 13 koloni karang, termasuk karang yang masih hidup dan bongkahan karang kuno. Lapisan pertumbuhan karang menyimpan informasi mengenai kondisi suhu laut ketika lapisan tersebut terbentuk.
Karang tumbuh sekitar 1 hingga 2 sentimeter setiap tahun dengan membentuk lapisan kalsium karbonat. Peneliti kemudian menganalisis rasio stronsium dan kalsium dalam kerangka karang untuk memperkirakan suhu air ketika karang tumbuh.
Data tersebut diperiksa kembali menggunakan rasio isotop oksigen sebagai indikator suhu lainnya. Karena El Nino kuat terjadi setiap beberapa tahun, peneliti menggunakan sampel yang memiliki rekaman setidaknya selama dua dekade.
Hasilnya menunjukkan pola yang cukup jelas. El Nino dengan kekuatan besar terkonsentrasi terutama dalam 40 hingga 50 tahun terakhir, sementara periode sebelumnya menunjukkan pola kejadian yang relatif lebih lemah.
Julia Cole, profesor di University of Michigan sekaligus penulis utama studi, mengatakan tidak ditemukan periode pada masa lalu ketika El Nino memiliki kekuatan seperti sekarang.
Menurut Cole, kekuatan El Nino berubah sejalan dengan kenaikan suhu global. Temuan tersebut menunjukkan El Nino besar dalam 40 tahun terakhir bukan kondisi yang normal jika dibandingkan dengan sejarah seribu tahun sebelumnya.
El Nino merupakan fenomena alami yang muncul secara berkala ketika wilayah Pasifik tropis mengalami pemanasan di atas kondisi normal.
Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah barat dari Amerika Selatan menuju Australia. Ketika angin tersebut melemah, air hangat bergerak kembali ke arah timur dan memicu El Nino.
Perubahan tersebut kemudian menggeser pola hujan. Curah hujan yang biasanya lebih banyak terjadi di wilayah Indonesia dan Pasifik barat dapat bergeser ke Pasifik tengah, sementara sejumlah wilayah di Pasifik barat mengalami kondisi lebih kering.
Dampaknya tidak berhenti di kawasan Pasifik. El Nino dapat memengaruhi pola badai, kekeringan, banjir, kebakaran hutan hingga produksi pangan di berbagai belahan dunia.
Cole mengatakan persoalannya bukan lagi sekadar apakah El Nino akan terjadi, tetapi seberapa kuat fenomena tersebut dan seberapa besar dampaknya.
Ia menilai El Nino yang terjadi di tengah pemanasan global dapat memperkuat kenaikan suhu yang sudah dipicu oleh emisi gas rumah kaca.
Peneliti juga menguji apakah perubahan kekuatan El Nino dapat terjadi akibat faktor alamiah tanpa pengaruh pemanasan global.
Mereka menggunakan model iklim yang memasukkan catatan aktivitas gunung berapi dan perubahan aktivitas Matahari selama sekitar 1.000 tahun terakhir. Hasil pemodelan tidak menunjukkan bahwa faktor alam tersebut mampu menghasilkan perubahan sebesar yang terlihat dalam beberapa dekade terakhir.
Temuan itu memperkuat dugaan bahwa pemanasan global berperan dalam meningkatnya kekuatan El Nino modern.
Jika El Nino menjadi lebih kuat, konsekuensinya juga berpotensi semakin besar. Kekeringan dapat meningkatkan risiko gagal panen dan kebakaran, sementara hujan ekstrem dapat memicu banjir serta kerusakan infrastruktur.
Perubahan pola air juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan dan penyakit yang berkaitan dengan air.
Cole memperingatkan bahwa tidak ada negara yang memiliki sumber daya untuk sepenuhnya terlindung dari dampak perubahan iklim dan El Nino yang semakin kuat.
Studi mengenai rekonstruksi El Nino selama 1.000 tahun menggunakan rekaman terumbu karang tersebut telah dipublikasikan di jurnal Science. (*)
Sumber: Earth
Minggu, 30/08/2026 17:59 WIB