Ilustrasi ibu hamil (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Upaya Amerika Serikat memperbaiki kualitas udara selama hampir dua dekade mulai menghadapi tantangan baru. Asap kebakaran hutan kini menjadi sumber utama hari-hari dengan polusi udara tidak sehat yang dialami perempuan selama kehamilan.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Menglu Liang, asisten profesor klinis di University of Maryland. Tim peneliti menganalisis paparan polusi selama kehamilan dari 2003 hingga 2019 dengan menggunakan data kelahiran 64,5 juta bayi.
Hasilnya menunjukkan, kualitas udara yang dihirup selama kehamilan secara keseluruhan membaik sekitar 34 persen dalam periode penelitian. Namun, penurunan tersebut tidak sepenuhnya terjadi karena asap kebakaran hutan justru bertahan dan menjadi semakin dominan.
Dikutip dari Earth, polutan yang menjadi perhatian penelitian adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah.
Partikel tersebut dapat berasal dari kendaraan, pembangkit listrik, industri, pembakaran lahan hingga kebakaran hutan.
Peneliti menjalankan model kualitas udara nasional untuk setiap hari selama 17 tahun. Model dihitung dua kali, yakni dengan memasukkan kebakaran dan dengan menghilangkan seluruh sumber kebakaran sehingga kontribusi asap dapat dipisahkan.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan catatan kelahiran di 2.842 wilayah dari 48 negara bagian AS.
Hasilnya menunjukkan jumlah bayi yang selama masa kehamilan ibunya mengalami setidaknya satu hari dengan tingkat PM2,5 di atas ambang tidak sehat turun drastis.
Pada awal 2000-an, sekitar 67,3 persen bayi mengalami setidaknya satu hari dengan polusi pada tingkat tersebut sebelum lahir. Pada 2017-2019, angkanya turun menjadi 21,9 persen.
Penurunan tersebut sebagian besar berkaitan dengan keberhasilan pengendalian emisi dari kendaraan, pembangkit listrik dan industri.
Hari-hari dengan polusi tidak sehat yang berasal dari sumber-sumber tersebut turun sekitar 85 persen setelah penerapan berbagai aturan pengendalian emisi berdasarkan Clean Air Act. Namun, kondisi berbeda terjadi pada asap kebakaran.
Pada awal periode penelitian, sekitar 15 persen bayi mengalami setidaknya satu hari paparan asap kebakaran selama berada dalam kandungan. Pada akhir penelitian, angkanya masih sekitar 14 persen.
Akibatnya, ketika polusi dari sumber lain semakin berkurang, asap kebakaran mengambil porsi yang jauh lebih besar dari hari-hari dengan kualitas udara buruk.
Pada akhir periode penelitian, kebakaran hutan diperkirakan menyumbang sekitar 65 persen hari dengan polusi tidak sehat selama kehamilan. Pada 2017 dan 2018, kontribusinya bahkan melampaui 70 persen.
“Pada 2019, asap kebakaran hutan telah menjadi penyumbang dominan hari-hari dengan polusi tinggi yang dialami selama kehamilan di AS,” kata Liang.
Penelitian tersebut menemukan bahwa beban asap tidak tersebar secara merata.
Wilayah dengan pendapatan paling rendah mengalami peningkatan kontribusi asap terhadap polusi selama kehamilan dari 5,3 persen menjadi 11,5 persen.
Wilayah pedesaan juga menghadapi paparan lebih tinggi. Di daerah yang berdekatan dengan kawasan hutan dan semak, kontribusi kebakaran terhadap polusi selama kehamilan meningkat hingga mencapai 14,1 persen.
Kelompok American Indian dan Alaska Native juga mengalami penurunan paparan polusi keseluruhan yang lebih kecil dibandingkan kelompok lain, yakni sekitar 25 persen.
Liang mengatakan beban polusi akibat kebakaran paling tinggi ditemukan pada komunitas berpenghasilan rendah, masyarakat pedesaan, komunitas American Indian dan Alaska Native, serta wilayah yang kekurangan layanan perawatan maternitas.
Peneliti juga menemukan hubungan antara paparan asap dan keterbatasan layanan kesehatan ibu dan bayi.
Di sekitar 39 persen wilayah yang dianalisis, unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang membutuhkan perawatan serius berjarak lebih dari 60 mil atau sekitar 95 kilometer.
Sekitar 630.700 bayi setiap tahun lahir di wilayah dengan keterbatasan layanan tersebut.
Pada akhir periode penelitian, asap kebakaran menyumbang 10,6 persen polusi yang dihirup ibu hamil di wilayah dengan layanan maternitas terbatas. Angkanya lebih rendah, sekitar 7,6 persen, di wilayah dengan layanan yang dinilai memadai.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah paparan asap tidak berdiri sendiri. Risiko lingkungan dapat bertemu dengan ketimpangan ekonomi, lokasi tempat tinggal dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Penelitian sebelumnya telah mengaitkan paparan asap kebakaran selama kehamilan dengan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Namun, penelitian terbaru ini tidak menentukan apakah paparan asap yang lebih tinggi secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan pada kehamilan atau bayi tertentu.
Para peneliti juga belum dapat memastikan periode kehamilan mana yang paling rentan terhadap paparan asap.
Selain itu, penelitian hanya menggunakan data hingga 2019. Artinya, analisis tersebut belum mencakup kebakaran besar di wilayah Barat AS pada 2020 maupun asap kebakaran Kanada yang menyelimuti sejumlah wilayah AS pada 2023.
Perlindungan individu juga tidak sepenuhnya dapat diperhitungkan. Penelitian tidak mengetahui apakah seseorang menggunakan masker, memakai penyaring udara di dalam rumah, meninggalkan wilayah terdampak, atau berpindah daerah selama kehamilan.
Temuan ini menunjukkan perubahan besar dalam sumber polusi udara yang dihadapi masyarakat AS.
Pengendalian emisi kendaraan, industri dan pembangkit listrik terbukti menurunkan paparan polusi secara signifikan. Namun, kebijakan tersebut tidak dapat secara langsung menghentikan partikel yang dilepaskan ketika hutan terbakar.
Liang menilai persoalan ini perlu dilihat dari sisi kesehatan masyarakat, bukan hanya dari luas wilayah yang terbakar.
“Penelitian sebelumnya telah memetakan dengan baik di mana asap kebakaran terjadi, tetapi sumber daya kesehatan masyarakat dialokasikan kepada populasi, bukan kepada luas lahan,” kata Liang.
Dengan musim kebakaran yang semakin menjadi perhatian, persoalan kualitas udara selama kehamilan kini tidak cukup hanya dilihat dari keberhasilan menekan emisi kendaraan dan industri. Asap kebakaran menjadi tantangan baru yang berpotensi menggerus sebagian kemajuan kualitas udara yang telah dicapai selama puluhan tahun. (*)
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Environmental Health
Sumber: Earth
Rabu, 19/08/2026 21:36 WIB