Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menjadi keynote speaker dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bali yang digelar di Denpasar, Jumat (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengenang perjalanan organisasinya saat menjadi keynote speaker dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bali yang digelar di Denpasar, Jumat (13/6).
Di hadapan anggota HMI dan KAHMI, Wamentrans Viva Yoga menegaskan identitasnya sebagai kader HMI yang dibesarkan di Pulau Dewata. “Saya kader HMI Cabang Denpasar,” ujarnya saat menceritakan perjalanan kaderisasinya di organisasi mahasiswa Islam tersebut.
Dalam kesempatan itu, Viva Yoga mengisahkan pengalaman selama aktif di HMI Cabang Denpasar. Ia menyebut sejumlah nama ketua umum yang pernah memimpin cabang tersebut sebelum dirinya dipercaya mengemban amanah sebagai ketua umum.
Menurutnya, selama berorganisasi di Bali, ia tidak hanya aktif di lingkungan HMI, tetapi juga membangun relasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, kelompok mahasiswa, dan organisasi kepemudaan, baik di dalam maupun di luar kampus.
Wamen Viva Yoga juga mengaku banyak `nyantri` atau belajar kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Habib Adnan Soenaryo. "Beliau hafiz Al Qur`an", ujarnya.
Menurutnya, menjadi kader HMI memberi manfaat bagi dirinya hingga bisa menjadi anggota DPR, MPR, hingga Wakil Menteri Transmigrasi. “Manfaatnya sangat luar biasa”, kata Viva Yoga.
Sebagai kader HMI, Viva Yoga menyebutkan dirinya mengikuti tahapan-tahapan proses perkaderan yang ada, seperti Basic Training di HMI Denpasar, Intermediate Training di HMI Cabang Mataram, dan Advance Training di Badko Jawa Barat di Bandung.
Viva Yoga merasa senang bisa dikader di HMI Denpasar. Sebagai umat Islam yang hidup di tengah mayoritas umat Hindhu, dirinya bisa belajar tentang inklusifitas. “Nilai-nilai inilah yang menginternal dalam diri saya”, tuturnya.
Tak hanya belajar inklusifitas namun juga belajar soal toleransi. “Nilai-nilai ini penting diinternalisasikan sebab Kita hidup dengan umat yang lain”, paparnya. Nilai-nilai yang demikian disebut juga ditekankan oleh Habib Adnan Soenaryo dalam kehidupan bermasyarakat di sana.
Nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan menurutnya juga termaktub dalam nilai-nilai dasar perjuangan HMI, NDP. “Jadi tidak ada kader HMI khususnya Cabang Denpasar yang bersikap ekstrim,” ucap alumni Universitas Udayana itu.
Kepada para alumni, Viva Yoga mengingatkan agar mereka memperhatikan anggota (adik-adik) HMI. KAHMI dibentuk untuk menghimpun para alumni yang bertebaran di berbagai infrastruktur politik dan masyarakat dengan tujuan untuk mengembangkan intelektualisme dan membantu HMI khususnya dalam perkaderan. “Kalau ada yang tidak membantu adik-adik HMI itu namanya bukan alumni”, tegasnya.
Meski sudah lama meninggalkan Bali, Viva Yoga menyebut dirinya tetap mengikuti perkembangan HMI di sana. Dirinya bersyukur HMI tidak hanya di Denpasar namun juga sudah ada di Singaraja dengan status cabang penuh. Dirinya berharap di kabupaten lain juga bisa berdiri cabang HMI.
Minggu, 14/06/2026 12:15 WIB
Minggu, 14/06/2026 12:15 WIB
Minggu, 14/06/2026 11:51 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB