Seorang karyawan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Palestina (UNRWA) menurunkan bendera PBB di atap kantor regional organisasi tersebut di ibu kota Lebanon, Beirut (Foto: Anwar Amro/AFP)
Beirut, Jurnas.com - Jumlah pengungsi di tempat penampungan darurat UNRWA di Lebanon dilaporkan meningkat hampir dua kali lipat dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut laporan badan PBB tersebut, lonjakan terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas militer Israel meskipun gencatan senjata tengah berjalan.
Hingga 2 Juni, sebanyak 2.148 orang dari 661 keluarga telah terdaftar di dua tempat penampungan darurat UNRWA, yakni di Siblin Training Centre di Sidon dan Battir School di Nahr el-Bared.
Angka ini melonjak dari 1.264 orang pada periode laporan sebelumnya. Lonjakan ini terjadi menyusul adanya perintah evakuasi dari militer Israel dan meningkatnya serangan di selatan Sungai Litani.
Sebuah serangan udara di dekat kamp pengungsi Palestina Rashidieh di selatan Tyre pada 25 Mei lalu telah merusak jaringan air, saluran pembuangan limbah, dan saluran air hujan.
Proses perbaikan total hingga kini masih tertunda karena adanya pembatasan akses dan kebutuhan akan alat-alat berat. Serangan tersebut memicu eksodus besar-besaran dari Rashidieh dan kamp el-Buss yang berada di dekatnya, di mana sekitar sepertiga dari total populasi gabungan kedua kamp yang mencapai 28.000 jiwa tersebut diperkirakan telah melarikan diri.
Sebanyak 14 dari 26 klinik kesehatan umum milik UNRWA terpaksa ditutup akibat situasi keamanan yang tidak kondusif, sehingga hanya menyisakan 12 klinik yang beroperasi di seluruh Lebanon.
Sementara itu, sebuah klinik keliling di tempat pengungsian Siblin tetap aktif, dengan mengerahkan tenaga medis dari fasilitas-fasilitas yang ditutup sesuai dengan kebutuhan.
Dari 60 sekolah milik UNRWA, saat ini hanya 34 sekolah yang menawarkan pembelajaran tatap muka, sedangkan sisanya beroperasi secara daring atau menggunakan metode campuran (hybrid).
Sejak awal situasi darurat ini, UNRWA telah menyediakan lebih dari 171.000 layanan konsultasi medis dan memberikan dukungan psikososial kepada sedikitnya 6.000 pengungsi.
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB