Selat Hormuz yang kini diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel (Foto: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Krisis yang berkepanjangan di Selat Hormuz mengancam perekonomian negara-negara di Belahan Bumi Utara, menurut pernyataan bersama Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Badan Energi Internasional (IEA), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
"Perang di Timur Tengah menimbulkan dampak yang besar dan sangat asimetris terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi di berbagai negara dan wilayah," demikian bunyi pernyataan tersebut pada Jumat.
Mereka menyebut negara-negara yang rentan paling terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar dan pupuk.
Namun, negara-negara di Belahan Bumi Utara juga tidak luput dari dampak jika krisis di Selat Hormuz terus berlanjut.
"Persediaan minyak global sedang berkurang dengan kecepatan mencapai rekor sebagai respons terhadap hilangnya pasokan besar-besaran melalui Selat Hormuz," tambah pernyataan itu.
Keempat lembaga itu memperingatkan bahwa jika arus pelayaran tidak kembali normal, penyusutan cepat cadangan minyak global menjelang puncak permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara akan meningkatkan risiko terhadap keamanan pasokan bahan bakar, kondisi pasar, dan ketahanan ekonomi secara lebih luas.
Mereka berjanji akan terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan situasi dan menyelaraskan upaya dalam mendukung negara-negara yang paling terdampak serta menjaga stabilitas ekonomi global.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Washington dan Teheran kemudian mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.
Perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas, sementara Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sumber: Sputnik
Sabtu, 30/05/2026 19:01 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB