https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Inong Balee, Pasukan Wanita Aceh yang Bikin Ciut Penjajah

Agus Mughni | Sabtu, 13/12/2025 18:05 WIB



Ada satu kisah heroik yang sering luput dari sorotan; kisah pasukan perempuan tangguh bernama Inong Balee, di bawah komando Laksamana Keumalahayati Ilustrasi - Inong Balee, Pasukan Wanita Aceh yang Gentarkan Penjajah (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Aceh, wilayah paling barat Indonesia, bukan hanya dikenal sebagai gerbang masuknya Islam pertama di Nusantara, tetapi juga saksi dari berbagai fase sejarah penting, dari kejayaan Kesultanan Aceh, perlawanan kolonial, hingga konflik panjang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berujung pada MoU Helsinki tahun 2005.

Namun di balik semua itu, ada satu kisah heroik yang sering luput dari sorotan; kisah pasukan perempuan tangguh bernama Inong Balee, di bawah komando Laksamana Keumalahayati. Berikut adalah ulasannya yang dikutip dari berbagai sumber.

“Inong Balee” berasal dari bahasa Aceh, di mana Inong berarti “wanita” dan Balee berarti “janda”. Sesuai namanya, pasukan ini terdiri dari para janda prajurit Aceh yang gugur di medan perang melawan penjajah Portugis dan Belanda. Mereka bangkit sebagai pejuang, simbol keberanian, dan lambang perlawanan perempuan Aceh.

Baca juga :
Inong Balee dan Malahayati, Pasukan Wanita Aceh yang Ditakuti Eropa

Dalam struktur sosial Aceh, perempuan memiliki posisi terhormat dan kuat. Hal ini tercermin dalam keberanian Inong Balee yang tidak ragu memanggul senjata, ikut dalam strategi perang, serta bertempur langsung melawan pasukan kolonial.

Pasukan ini dibentuk pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil (1589–1604 M) atas gagasan Laksamana Malahayati, perempuan bangsawan Aceh, anak dari panglima angkatan laut dan cicit Sultan Salahuddin Syah.

Baca juga :
Malahayati, Perempuan Aceh yang Menjadi Laksamana Pertama di Dunia

Setelah suaminya gugur dalam pertempuran di Teluk Haru pada 1586, Malahayati tidak terpuruk. Sebaliknya, ia justru mengambil alih posisi suaminya sebagai panglima, dan menjadi perempuan pertama di dunia yang menyandang pangkat laksamana laut.

Keumalahayati merupakan satu dari sedikit perempuan dalam sejarah dunia yang berhasil mendobrak dominasi laki-laki di dunia militer. Ia bukan hanya cerdas, tetapi juga sangat terlatih. Ia menempuh pendidikan militer di Mahad Baitul Maqdis, akademi militer Kesultanan Aceh, dengan pelatihan dari para instruktur perang asal Turki Ottoman.

Dengan pengalaman dan pengetahuan militernya, Malahayati, sapaan Keumalahayati, mengorganisasi pasukan Inong Balee menjadi unit tempur yang tangguh dan terorganisir. Di bawah komandonya, Inong Balee berubah dari sekumpulan janda menjadi kekuatan militer yang ditakuti di wilayah Selat Malaka.

Pasukan Inong Balee bukan sekadar simbol. Mereka memiliki 100 kapal perang besar, masing-masing mampu mengangkut hingga 400 pasukan, dilengkapi senjata dan strategi tempur laut. Mereka aktif dalam pertempuran melawan Portugis dan Belanda, terutama di kawasan strategis Selat Malaka, pantai timur Sumatra, hingga wilayah Malaka.

Salah satu momen paling ikonik ialah Pertempuran Teluk Haru pada 1599, ketika dua kapal dagang Belanda, de Leeuw dan de Leeuwin, datang tanpa izin ke Aceh. Dalam duel yang tercatat dalam sejarah, Malahayati berhasil membunuh Cornelis de Houtman, pemimpin armada Belanda, dan menawan saudaranya, Frederik de Houtman.

Tindakan tegas ini mengejutkan Eropa, mempertegas posisi Aceh sebagai kekuatan maritim yang tidak bisa diremehkan, dipimpin oleh seorang perempuan.

Sebagai pusat komando dan pelatihan militer, Malahayati membangun Benteng Inong Balee di perbukitan Teluk Krueng Raya, Aceh Besar. Dari lokasi strategis ini, pasukan perempuan mengawasi lalu lintas pelayaran, menjaga pelabuhan, dan melatih anggota baru.

Kini, meski hanya tersisa reruntuhan, benteng tersebut masih berdiri sebagai simbol ketangguhan perempuan Aceh. Situs ini menjadi warisan sejarah yang penting dan saksi bisu dari peran vital perempuan dalam sejarah pertahanan Aceh.

Tradisi prajurit perempuan bukan hal baru di Aceh. Di era Kesultanan, perempuan memegang peran penting dalam urusan militer dan sosial. Selain Malahayati, sejarah mencatat nama-nama seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, yang juga memimpin pasukan melawan kolonialisme.

Inong Balee melengkapi warisan tersebut, sebagai bentuk nyata dari kesetaraan dan penghargaan terhadap perempuan dalam struktur militer Aceh, bahkan dalam masyarakat yang berbasis syariat Islam.

Inong Balee bukan hanya pasukan janda, tapi lambang bahwa kehilangan bisa menjadi kekuatan, dan perempuan bisa menjadi garda terdepan dalam mempertahankan tanah air.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Inong Balee Pasukan Perempuan Aceh Pejuang wanita Aceh Penjajah Indonesia

Terkini | Rabu, 17/06/2026 20:43 WIB

Olahraga

Chelsea Temukan Pemain Alternatif jika Gagal Boyong Morgan Rogers

Olahraga

Forest Tunda Perburuan Bek AS Roma Jan Ziolkowski

Ekonomi

BPDP Ajak UKMK Magelang Optimalkan Peluang Bisnis Turunan Sawit

Olahraga

Mourinho Minta Manajemen Madrid Datangkan Goncalo Inacio

Humanika

Dari Nabi Musa hingga Tragedi Karbala, Ini 6 Peristiwa di Bulan Muharram

News

KPK Berpeluang Panggil Ulang Petinggi Anak Usaha Adaro

News

BAM DPR Tindak Lanjuti Aspirasi APDESI Kemuning soal Konflik Agraria

News

PKB Instruksikan Dialog dengan Mahasiswa soal Program Prioritas Pemerintah

News

Kapal Tanker Iran Dilaporkan Telah Keluar dari Zona Blokade AS

News

Said Abdullah Pastikan PDIP Tak Terlibat Aksi Demo Mahasiswa

News

China Tawarkan Bantuan ke Iran dan Lebanon Atas "Bencana Kemanusiaan"

Ekonomi

Harga Batu Bara Periode II Juni Naik Jadi 123,91 Dolar AS per Ton

News

Rieke Kritik Anggara Komnas HAM: Dana Urus Kasus HAM Hanya 6 Persen

News

Komisi XIII: Jangan Sampai Kementerian HAM Lebih Sibuk Membangun Birokrasi

News

Komisi X Dorong Penguatan Anggaran BPS, Dukung Program Statistik Nasional

News

Komisi IV: Tata Kelola Hutan Perlu Dilakukan Secara Bertanggung Jawab

News

KPK Akui Sudah Koordinasi dengan BPKP Terkait Penyelidikan Korupsi MBG

Info Desa

PPDI Dukung Program MBG dan Kopdes Merah Putih Berlanjut, Mendes Apresiasi

Terpopuler

Minggu, 14/06/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Belanda vs Jepang

Senin, 15/06/2026 01:01 WIB
Olahraga

Pelatih Turki Kecewa Timnya Kalah Lawan Australia

Minggu, 14/06/2026 12:10 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Jerman vs Timnas Curacao

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777