https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengenal Teori Kehancuran Alam Semesta, dari Big Freeze hingga Big Crunch

Agus Mughni | Senin, 06/10/2025 14:55 WIB



Sejumlah teori ilmiah kini menyatakan bahwa semesta bisa berakhir — dan ada berbagai kemungkinan bagaimana hal itu akan terjadi. Tiga teori paling utama yang menjadi perhatian kosmolog adalah Big Freeze, Heat Death, dan Big Crunch. Ilustrasi Studi Ungkap Alam Semesta Bisa Berakhir dalam Big Crunch, Ini Perkiraan Waktunya (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Alam semesta, seluas dan selama apa pun tampaknya, tetaplah entitas yang memiliki awal, dan diyakini juga memiliki akhir. Teori Big Bang sudah diterima luas sebagai permulaan segalanya, tapi bagaimana dengan akhirnya?

Dikutip dari berbagai sumber, sejumlah teori ilmiah kini menyatakan bahwa semesta bisa berakhir — dan ada berbagai kemungkinan bagaimana hal itu akan terjadi. Tiga teori paling utama yang menjadi perhatian kosmolog adalah Big Freeze, Heat Death, dan Big Crunch.

1. Big Freeze

Teori Big Freeze menyatakan bahwa alam semesta akan terus mengembang tanpa batas. Galaksi akan terus menjauh satu sama lain, bintang-bintang akan kehabisan bahan bakar, dan tidak akan ada cukup energi untuk membentuk bintang baru.

Baca juga :
Studi Gravitasi Baru Guncang Teori Materi Gelap, "Fuzzy" Lebih Menjanjikan?

Seiring waktu suhu alam semesta menurun hingga mendekati nol mutlak. Kemudian, aktivitas bintang dan galaksi berhenti. Lalu, alam semesta menjadi dingin, gelap, dan statis.

Big Freeze bukan ledakan atau kehancuran dramatis, melainkan proses perlahan menuju kehampaan kosmik. Ini adalah salah satu skenario akhir yang paling mungkin, menurut pengamatan kosmologis saat ini.

Baca juga :
Alasan Andromeda Mendekati Bima Sakti Akhirnya Terungkap

2. Heat Death

Heat Death sering dianggap sebagai versi lanjutan dari Big Freeze, namun dengan penekanan pada entropi—tingkat keacakan dan ketidakteraturan dalam sistem.

Dalam skenario ini energi masih ada, tetapi tersebar begitu merata sehingga tidak bisa digunakan lagi. Kemudian, tidak ada lagi “perbedaan energi” yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja fisik. Selanjutnya, segala aktivitas fisik dan biologis berhenti secara permanen.

Baca juga :
Mengenal Al-Khazini, Ilmuwan Muslim Pencetus Awal Teori Gravitasi Bumi

Secara teknis, semesta tetap "ada", tapi tidak ada lagi perubahan, kehidupan, atau struktur. Waktu dan peristiwa tidak lagi bermakna.

3. Big Crunch

Berbeda dari dua teori sebelumnya, Big Crunch adalah skenario di mana ekspansi semesta berhenti dan kemudian berbalik arah. Jika gravitasi suatu saat berhasil mengalahkan percepatan ekspansi (yang saat ini dipicu oleh energi gelap), semesta akan mulai menyusut.

Prosesnya, galaksi dan materi saling mendekat. Kemudian, suhu meningkat drastis. Lalu, alam semesta mengerut kembali menjadi titik super-padat, seperti saat sebelum Big Bang.

Menariknya, dikutip dari laman Earth, studi terbaru (seperti yang dilakukan oleh Henry Tye dan timnya) menyatakan bahwa konstanta kosmologis mungkin negatif, bukan positif seperti dugaan sebelumnya. Ini membuka kemungkinan bahwa Big Crunch bukan sekadar teori, tapi skenario nyata—dengan waktu keruntuhan diperkirakan terjadi dalam sekitar 20 miliar tahun dari sekarang. (*)

 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Teori Kehancuran Alam semesta Big Freeze Big Crunch

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777