Minggu, 25/07/2021 14:18 WIB

Kurangnya Bahan Bacaan Jadi Faktor Penghambat Pertumbuhan Literasi

penting bagi seluruh stakeholder melakukan perbaikan hingga penguatan pada sisi hulu literasi

talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan pengukuhan Bunda Literasi Kab. Sanggau, Selasa, (22/06).

Kalbar, Jurnas.com - Antusiasme membaca masyarakat Indonesia belum dibarengi dengan jumlah distribusi buku dan aksesibilitas. Idealnya, alokasi anggaran sebesar 20% APBN untuk pendidikan mestinya bisa mengurangi degradasi kesenjangan bahan bacaan. Maka, penting bagi seluruh stakeholder melakukan perbaikan hingga penguatan pada sisi hulu literasi.

Stakeholder tersebut meliputi kewenangan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta TNI/Polri. Mereka diminta untuk melakukan intervensi, seperti perbaikan pada sisi regulasi, dukungan dana, distribusi bahan bacaan yang merata, hingga pemenuhan kebutuhan koleksi yang sesuai kebutuhan masyarakat.

"Kurangnya bahan bacaan hingga pendistribusian buku yang belum tepat sasaran mengakibatkan perlambatan pertumbuhan literasi, " urai anggota Komisi X DPR RI Adrianus Asia Sidot mengawali talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan pengukuhan Bunda Literasi Kab. Sanggau, Selasa, (22/06).

Meski di tengah kondisi pandemi Covid-19, penguatan literasi harus sama-sama diyakini mampu menjadi daya ungkit pemulihan ekonomi nasional dan pembentukan SDM unggul. Literasi adalah kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan yang menjadi kunci utama untuk meningkatkan daya saing. Dalam konteks yang lebih luas, literasi mengerucut pada perbendaharaan gagasan yang membantu seseorang untuk berpikir dan bertindak atas dasar konsep yang matang.

"Literasi memberikan cara pandang baru bahwa siapapun bisa menyelesaikan persoalan. Ini akan membentuk kesadaran kolektif serta sikap bahu-membahu menyelesaikan persoalan serius yang tengah kita hadapi saat ini," imbuh Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Deni Kurniadi.

Deputi II Perpusnas menambahkan kondisi ideal menurut syarat UNESCO adalah tiga buku dibaca satu orang. Maka, pihaknya akan terus mendorong keaktifan para penulis lokal membuat konten lokal yang berdampak pada karakter bhineka tunggal ika di tengah masyarakat. Bukan mengeksplorasi budaya asing ke dalam keseharian.

Pada kesempatan yang sama Sekretaris Daerah Kalbar A. L. Leysandri mengaku akan mensupport penuh anggaran perpustakaan daerah tetapi harus dibarengi ajakan untuk sama-sama memperbaiki kondisi literasi daerah dan nasional.

Bahkan, secara khusus Pemda Kalbar mengimbau kepada semua kabupaten/kota agar dapat membenahi perpustakaan di lingkungan masing-masing sehingga dengan demikian, perpustakaan dapat menjadi fasilitas pembelajaran untuk meningkatkan SDM.

"Mari kita saling bahu membahu membina dan mengembangkan berbagai jenis perpustakaan termasuk perpustakaan sekolah, umum, desa/kelurahan serta taman bacaan masyarakat," tambah Sekda.

Pelaksanaan PILM Kab. Sanggau bersamaan dengan peresmian gedung baru layanan perpustakaan hasil dari Dana Alokasi Khusus (DAK) subbidang perpustakaan dan lauching Pojok Legenda Sanggau.

TAGS : Bahan Bacaan Pertumbuhan Literasi Perpustakaan Nasional




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :