Kamis, 08/12/2022 18:53 WIB

Para Penulis Kawakan Ini mengungkap Inspirasinya di Perpusnas Writers Festival 2022

Peran Perpusnas untuk mendorong berbagai elemen masyarakat dalam menciptakan konten informasi.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) akan menggelar Perpusnas Writers Festival (PWF). Kali ini bertema: Menulis, Memberdayakan, dan Mengabadikan

Jakarta, Jurnas.com -Bagi Anda pencinta literasi, sejak 16 November hingga 22 November 2022 ini, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) akan menggelar Perpusnas Writers Festival (PWF). Kali ini bertema:  Menulis, Memberdayakan, dan Mengabadikan.

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Humas, Sri Marganingsih menyampaikan, peran Perpusnas untuk mendorong berbagai elemen masyarakat dalam menciptakan konten informasi.

"Dengan segala informasi pengetahuan dan pengalaman dari para narasumber, akan menjadi amunisi untuk membentuk dan membangun kemampuan dalam bidang kepenulisan, sehingga pada gilirannya akan lahirlah karya-karya bermutu untuk dapat dibukukan dan disebarluaskan ke masyarakat," ujarnya.

Ajang ini akan diisi kegiatan bincang inkubator literasi. Misalnya  peluncuran dan diskusi buku Leksikon Gerakan Indonesia Menulis dan Saatnya Duta Baca Bicara.  Tak hanya itu, ada talkshow kepenulisan yang akan menghadirkan penulis yang berasal dari cendikiawan, birokrat dan ASN.

Sosok cendikiawan Yudi Latif dan Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji akan dihadirkan pada ajang tersebut. Sedangkan pada hari terakhir, kegiatan akan diisi dengan workshop kepenulisan yang menghadirkan dua mentor kepenulisan Benny Arnas dan Annisa Khairunnisa.

Pemimpin Redaksi Perpusnas Press, Edi Wiyono berharap agar kegiatan ini dapat menjadi ruang media bagi para penulis dan pembaca. "Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus berkelanjutan dengan tentunya segala inovasi yang akan hadir di sana, sehingga harapan kepada para pembaca dan penulis Indonesia bisa terakomodir dengan kegiatan ini," katanya.

Hari pertama festival ini  mengadakan talkshow  dengan narasumber sosok penulis Ahmad Fuadi. DIa mengatakan, Perpusnas tidak hanya menjadi tempat bersua pembaca, tetapi tempat penulis bertegur sapa dengan pembaca.

“Membaca merupakan pengalaman intim antara suara penulis dan pembaca yang mendengarkan suara yang ingin disampaikan. Maka, menulis harus dilakukan dari hati. “Menulislah dari hati agar sampai ke hati pembaca,” ujar penulis novel Ranah 3 Warna yang telah dialihwahanakan dalam bentuk film ini.

Kemudian ada Eka Kurniawan, penulis novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dia mengatakan, sewaktu kecil tidak terpikirkan untuk menjadi penulis. “Yang terpikirkan ya cita-cita lain seperti anak-anak kecil dan remaja pada umumnya. Tapi memang saya senang membaca dan mendengarkan dongeng,” sebutnya.

Narasumber lainnya, Maman Suherman mengatakan bahwa menulis merupakan kewajiban moral dalam mendukung literasi masyarakat. “Dengan begitu tidak lagi ada masyarakat Indonesia di mana, 90 orang di Indonesia mengantri untuk dapat membaca satu buku saja,” katanya.

“Karenanya apresiasi yang tinggi untuk Perpusnas yang mengadakan Perpusnas Writers Festival sebagai bagian dari upaya untuk terus mendorong dan meningkatkan minat dan daya baca serta semangat mengabadikan: menulis,” ujar Maman.

Sementara itu, Kirana Kejora memandang menulis sebagai kegiatan yang baik untuk jiwanya. "Saya menulis untuk obat sakit jiwa, sebagai healing. Sejak kecil saya adalah anak yang kesepian dan sejak kecil saya suka menulis untuk menemani kesepian saya, dimulai dengan menulis buku harian, hingga bermain tenda rumah-rumahan bersama teman imajiner,” ujarnya.

Penulis buku Elang ini menekankan bahwa siapapun bisa jadi penulis, bahkan hidup dari menulis. “Perpusnas Writers Festival adalah ruang megah bagi para penulis, pegiat literasi dan pembaca untuk sama-sama belajar, berkarya, berdaya, agar semakin kaya jiwa,” paparnya.


TAGS : Perpustakaan Nasional Perpusnas Writers Festival Eka Kurniawan Literasi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :