Pusat data AI di Amerika Serikat (Foto: AFP)
New York, Jurnas.com - Sejumlah perusahaan teknologi raksasa mulai memutar otak mengatasi kemarahan publik di Amerika Serikat terkait konsumsi air dan listrik yang luar biasa besar pada pusat data. Para raksasa teknologi yang menginvestasikan miliaran dolar ini mengklaim bahwa persoalan krisis penggunaan air setidaknya mulai menemukan titik terang.
Komputer server dalam pusat data menghasilkan panas tinggi sehingga membutuhkan pasokan air yang besar untuk pendinginan. Berdasarkan laporan Rystad Energy, pusat data secara global mengonsumsi 222 miliar liter air pada 2025. Tanpa penanganan adaptif, angka tersebut diperkirakan melonjak hingga 644 miliar liter pada 2030.
Raksasa produsen chip Amerika Serikat, Nvidia, menyatakan dalam laporannya pada Juni lalu bahwa sistem terbarunya mampu memangkas konsumsi air hingga hampir nol persen di beberapa fasilitas.
Melalui sistem pendingin siklus tertutup, cairan dialirkan langsung menempel pada server dan area chip yang suhunya dapat melampaui 80 derajat celsius.
"Ada hubungan sebab-akibat yang sangat langsung antara jumlah air yang digunakan dan berapa banyak energi yang dihabiskan," ujar Andy Masley, peneliti independen fokus isu AI dan pusat data, sebagaimana dikutip dari AFP pada Senin (7/9).
Pengurangan penggunaan air umumnya berdampak pada pembengkakan konsumsi listrik. Untuk mensiasatinya, Nvidia membiarkan cairan masuk ke server pada suhu lebih hangat dari standar industri, yakni 45 derajat celsius. Langkah ini memangkas kebutuhan pendinginan udara secara terus-menerus.
Langkah efisiensi ini juga diambil oleh perusahaan besar lain. Microsoft, Amazon Web Services (AWS), dan Meta mengonfirmasi telah mengadopsi sistem siklus tertutup yang mengklaim tanpa kehilangan air bersih. Laporan keberlanjutan terbaru mencatat efisiensi penggunaan air meningkat 25 persen di Microsoft dan 37 persen di AWS.
Namun, pengamat menilai motif utama efisiensi ini lebih didorong oleh tekanan publik dan penataan citra perusahaan ketimbang penghematan biaya, mengingat harga air jauh lebih murah dibanding tarif listrik.
Di samping itu, penggunaan air secara langsung pada pusat data hanyalah sebagian dari masalah. Penggunaan air terselubung seperti pembuatan chip, manufaktur server, serta proses pembangkitan listrik pemasuk daya pusat data, diperkirakan mencapai dua kali lipat dari jumlah air yang dikonsumsi langsung oleh fasilitas server.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Air Pusat Data Sistem Pendingin AI Konsumsi Energi Air





















