Kawanan Lumba-lumba Muncul di Permukaan (Foto: Pexels/Jan van der Wolf)
Jakarta, Jurnas.com - Nama mungkin bukan kemampuan yang sepenuhnya dimiliki manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan lumba-lumba, gajah, burung paruh bengkok, dan primata memiliki panggilan vokal yang digunakan untuk merujuk pada individu tertentu, meski para ilmuwan masih memperdebatkan apakah perilaku tersebut benar-benar bisa disebut sebagai penggunaan nama.
Perdebatan ini muncul karena suara hewan tidak bisa begitu saja disamakan dengan nama manusia. Dalam bahasa manusia, nama merupakan simbol yang merujuk pada individu tertentu dan dipahami bersama oleh anggota kelompok.
Karena itu, peneliti perlu membuktikan lebih dari sekadar kemampuan hewan mengenali suara.
Salah satu bukti paling kuat datang dari lumba-lumba hidung botol (Tursiops). Sejak 1960-an, peneliti menemukan bahwa lumba-lumba muda menghasilkan siulan khas yang berbeda antara satu individu dan lainnya.
Siulan tersebut dikenal sebagai signature whistle. Penelitian berikutnya menunjukkan lumba-lumba dapat mengenali individu lain berdasarkan bentuk dan frekuensi siulan, bahkan ketika suara tersebut diperdengarkan melalui pengeras suara bawah air.
Lumba-lumba juga diketahui meniru siulan khas individu lain untuk memulai kontak. Pola ini membuat sejumlah peneliti menilai perilakunya cukup mirip dengan penggunaan nama pada manusia.
Kelly Jaakkola, psikolog kognitif di Dolphin Research Center, mengatakan penelitian menunjukkan lumba-lumba menggunakan siulan untuk mengidentifikasi satu sama lain dalam kelompok sosial yang kompleks dan ketika bekerja sama.
Gajah Afrika (Loxodonta) menjadi spesies lain yang menarik perhatian.
Dalam penelitian yang diterbitkan sebagai preprint pada 2023, peneliti menemukan gajah menggunakan suara dengusan bernada rendah yang tampaknya berkaitan dengan individu tertentu.
Ketika rekaman suara yang diduga sebagai "nama" mereka diperdengarkan, gajah cenderung mendekati sumber suara lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak vokalisasi.
Namun, penelitian tersebut belum melalui proses peer review, sehingga temuannya masih membutuhkan pengujian lebih lanjut.
Kemampuan serupa juga ditemukan pada spectacled parrotlet, burung beo kecil yang berasal dari sebagian wilayah Amerika Selatan dan Tengah.
Penelitian menunjukkan burung ini diduga menggunakan label vokal untuk individu lain. Survei terhadap sekitar 800 burung beo peliharaan bahkan menemukan sekitar setengahnya menggunakan label vokal untuk menyebut manusia atau hewan tertentu yang mereka kenal.
Beberapa pemilik melaporkan burung beo mereka dapat menggunakan nama anggota keluarga dan anjing di rumah dengan tepat.
Namun, peneliti mengingatkan bahwa perilaku burung peliharaan yang belajar dari manusia belum tentu sama dengan cara burung liar berkomunikasi.
Persoalan terbesar dalam penelitian ini adalah bagaimana mendefinisikan nama.
Menurut Jaakkola dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit pada Juli 2026, setidaknya ada tiga kriteria yang perlu dipenuhi.
Pertama, suara tersebut harus merujuk pada individu tertentu. Kedua, suara itu harus menjadi representasi simbolis dari individu tersebut dalam pikiran penggunanya. Ketiga, setidaknya dua individu harus memiliki pemahaman yang sama mengenai suara tersebut dan individu yang dirujuk.
Dengan kriteria tersebut, bukti mengenai penggunaan nama pada lumba-lumba saat ini dinilai paling kuat.
Sementara itu, bukti pada gajah, burung beo, dan primata seperti marmoset masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah suara mereka benar-benar merupakan nama atau sekadar bentuk komunikasi vokal lainnya.
Penelitian terhadap marmoset menunjukkan bahwa primata ini dapat mengarahkan vokalisasi tertentu kepada individu tertentu dan mempelajari suara tersebut dari anggota keluarganya.
Namun, Jaakkola menilai hasil tersebut belum cukup kuat. Dalam sebuah tanggapan terhadap penelitian tersebut, ia mencatat bahwa suara yang diuji hanya berhasil mengidentifikasi individu dengan tingkat keberhasilan sekitar 16 hingga 61 persen.
Menurutnya, ada kemungkinan marmoset hanya meniru vokalisasi satu sama lain, bukan menggunakan suara tersebut sebagai nama.
Perbedaan ini menunjukkan mengapa para ilmuwan berhati-hati dalam menggunakan istilah "nama" ketika membahas komunikasi hewan.
Hewan yang diduga memiliki panggilan mirip nama umumnya memiliki dua karakteristik penting: mampu mempelajari suara baru dan hidup dalam kelompok sosial yang kompleks.
Nama atau label vokal dapat berguna ketika kelompok besar terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan individu sering berada di luar pandangan satu sama lain.
Michael Pardo, ahli ekologi perilaku di Colorado State University, menilai kemampuan semacam ini mungkin muncul secara terpisah pada berbagai garis evolusi karena tekanan sosial yang serupa.
Penelitian mengenai nama pada hewan juga dapat membantu ilmuwan memahami kemampuan kognitif mereka, terutama kemampuan untuk membentuk representasi mental mengenai individu lain.
Jika hewan benar-benar menggunakan nama, hal itu dapat memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana kemampuan komunikasi kompleks dan aspek tertentu dari kognisi sosial berevolusi.
Para ilmuwan belum bisa mengatakan bahwa semua hewan sosial memiliki nama.
Babun, jerapah, dan gagak, misalnya, hidup dalam kelompok sosial yang kompleks, tetapi belum ada bukti kuat bahwa mereka menggunakan nama untuk sesamanya.
Namun, jika kemampuan belajar suara dan struktur sosial memang menjadi faktor penting, perilaku semacam ini mungkin jauh lebih umum daripada yang selama ini diketahui.
Jaakkola tidak menutup kemungkinan bahwa banyak hewan memiliki panggilan yang menyerupai nama. Hanya saja, menurutnya, bukti ilmiah untuk menyebutnya sebagai "nama" masih harus memenuhi standar yang lebih ketat. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Panggilan Hewan Nama Hewan Panggilan Vokal


















