Minggu, 23/08/2026 12:54 WIB

Presiden Iran Takkan Beri Konsesi, Ingin Akhiri `Tak Perang Tak Damai`





para pejabat Iran hampir setiap hari membahas cara mengakhiri ketidakpastian tersebut tanpa mengorbankan prinsip dan nilai yang selama ini dipegang Teheran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: WANA via REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak berniat memberikan konsesi dalam menghadapi tekanan dan ketegangan dengan Amerika Serikat. Namun, ia juga menyatakan perang bukan solusi dan Iran perlu keluar dari situasi yang disebutnya sebagai kondisi “tak perang, tak damai”.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian pada Sabtu (22/8) dan dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA. Menurutnya, para pejabat Iran hampir setiap hari membahas cara mengakhiri ketidakpastian tersebut tanpa mengorbankan prinsip dan nilai yang selama ini dipegang Teheran.

Pezeshkian mengatakan Iran membutuhkan jalan yang mampu menjaga prinsip dan nilai negaranya sekaligus membuat pihak lawan berpikir ulang untuk melakukan serangan berikutnya.

"Kami tidak berniat membuat konsesi," kata Pezeshkian dalam pernyataannya seperti dilaporkan IRNA dikutip Anadolu, Minggu (23/8).

Menurut Pezeshkian, perang tidak memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi Iran. Namun, ketidakpastian mengenai kemungkinan pecahnya kembali konflik juga menimbulkan tekanan bagi perekonomian.

Situasi “tak perang, tak damai” membuat dunia usaha sulit mengambil keputusan. Ancaman konflik yang terus membayangi juga dapat menghambat masuknya investasi ke Iran.

Pezeshkian menilai Iran perlu mengatasi kondisi tersebut melalui pendekatan yang rasional, tetapi tetap mempertahankan kekuatan negara. Ia menekankan pentingnya mencapai kondisi yang memberikan kepastian tanpa membuat Iran harus mengorbankan prinsip maupun kepentingannya.

Pezeshkian juga membela nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang baru-baru ini dibuat Iran dan Amerika Serikat. Menurut dia, tidak terdapat ketentuan dalam memorandum tersebut yang dapat dianggap sebagai bentuk kapitulasi atau mewajibkan Teheran memberikan konsesi.

Iran dan AS menandatangani memorandum tersebut pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari sekaligus membuka jalan bagi negosiasi menuju kesepakatan akhir.

Namun, proses pembicaraan berikutnya belum berjalan sesuai harapan.

Pembicaraan Iran dan AS mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan mengenai implementasi memorandum tersebut. Persoalan lain yang turut menjadi ganjalan berkaitan dengan pengaturan pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Karena itu, ketidakpastian mengenai keamanan dan kebebasan navigasi di jalur tersebut tidak hanya menjadi persoalan bagi Iran dan AS, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap pasar energi global. (*)

Sumber: Aandolu

KEYWORD :

Presiden Iran Tak Perang Tak Damai Situasi Ketidak Pastian Iran AS




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :