Minggu, 09/08/2026 22:33 WIB

Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Amati Pusaran Kecil di Permukaan Matahari





Para ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil mengamati secara langsung ribuan pusaran kecil di permukaan Matahari yang telah diprediksi secara teori

Para ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil mengamati secara langsung ribuan pusaran kecil di permukaan Matahari (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Para ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil mengamati secara langsung ribuan pusaran kecil di permukaan Matahari yang telah diprediksi secara teori sejak sekitar 150 tahun lalu.

Temuan tersebut diperoleh menggunakan Daniel K. Inouye Solar Telescope di Hawaii, teleskop surya paling kuat yang digunakan untuk mengamati permukaan Matahari secara detail. Hasil penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Nature.

Dikutip dari Live Sceince, pusaran yang terlihat merupakan bentuk dari Kelvin-Helmholtz instability, fenomena yang terjadi ketika dua aliran fluida bergerak dengan kecepatan berbeda dan menghasilkan pola berputar akibat gesekan.

Fenomena tersebut sebelumnya telah dijelaskan oleh fisikawan Lord Kelvin dan Hermann von Helmholtz pada abad ke-19. Namun, keberadaannya di permukaan Matahari baru sekarang dapat diamati secara langsung.

Para peneliti merekam pergerakan pusaran tersebut dalam bentuk rangkaian gambar. Struktur yang terlihat berada di sekitar batas wilayah magnetik pada permukaan Matahari.

Beberapa pusaran juga disertai pola gelap tipis yang disebut striations. Kemampuan teleskop menangkap struktur berukuran hanya puluhan mil membuat fenomena tersebut dapat terlihat untuk pertama kalinya.

Peneliti kemudian membandingkan hasil pengamatan dengan simulasi komputer mengenai fotosfer, lapisan Matahari yang terlihat dari Bumi.

Hasilnya menunjukkan kesesuaian yang kuat, termasuk jarak rata-rata antarpusaran. Kecocokan tersebut menjadi bukti bahwa pola yang terlihat memang merupakan Kelvin-Helmholtz instability.

Temuan ini tidak hanya penting untuk memahami permukaan Matahari. Para peneliti menduga pusaran tersebut dapat memengaruhi medan magnet Matahari.

Gerakan berputar dan pencampuran terus-menerus pada garis medan magnet berpotensi membantu menumpuk energi yang kemudian dilepaskan melalui aktivitas Matahari, termasuk semburan Matahari (solar flare) dan lontaran massa korona (coronal mass ejection atau CME).

Kedua fenomena tersebut merupakan bagian dari aktivitas yang dapat memicu cuaca antariksa dan berpotensi mengganggu satelit, komunikasi, serta jaringan listrik di Bumi.

Pusaran tersebut juga berpotensi memberikan petunjuk mengenai salah satu misteri lama dalam fisika Matahari.

Korona, atmosfer terluar Matahari, dapat mencapai suhu sekitar 2 juta derajat Fahrenheit atau sekitar 1 juta derajat Celsius. Suhu itu jauh lebih tinggi dibandingkan permukaan Matahari.

Thomas Rimmele, kepala teknologi National Solar Observatory, mengatakan fenomena yang baru diamati tersebut mungkin berperan dalam proses pemanasan korona.

Namun, seberapa besar kontribusinya masih harus diteliti lebih lanjut.

Para peneliti kini berencana menggunakan perangkat lunak untuk melacak pusaran secara otomatis dalam pengamatan berikutnya. Data tersebut diharapkan dapat membantu mengukur seberapa besar fenomena ini berkontribusi terhadap pemanasan korona dan aktivitas cuaca antariksa.

Dengan resolusi pengamatan yang semakin tinggi, permukaan Matahari yang sebelumnya tampak relatif sederhana mulai memperlihatkan dinamika yang jauh lebih kompleks. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Pusaran Kecil Permukaan Matahari Lord Kelvin Hermann von Helmho




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :