Sabtu, 08/08/2026 21:11 WIB

Film ROOTS Karya Michael Schinhelm Kembali Menyapa Jakarta





Sutradara Michael Schindhelm melalui filmnya tampak begitu berhasil merangkai alur cerita yang menarik antara Walter Spies, masa lalu dan saat ini di Pulau Bali

Suasana pemutaran film Roots dan Diskusi di Langgar Aksara Nusantara Depok (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com – One Hundred Years Walter Spies in Bali karya Michael Schindhelm dari Bandung, Bogor dan Jakarta akhirnya ditutup di Galeri Cemara 6-Museum Toeti Heraty Jakarta.

Film dokumenter fiksi yang membuka percakapan tentang sosok Walter Spies dan Bali dalam kurun waktu seratus tahun, mendapat apresiasi yang sangat tinggi di setiap venue pemutaran film, baik di Jawa Barat dan Jakarta.

Galeri Cemara 6 - Museum Toeti Heraty Jakarta sebagai venue terakhir membuktikan bagaimana film ini mendapat tempat di kalangan insan pecinta seni, sejarah dan sinematografi, budayawan, serta masyarakat luas lainnya.

Sutradara Michael Schindhelm melalui filmnya tampak begitu berhasil merangkai alur cerita yang menarik antara Walter Spies, masa lalu dan saat ini di Pulau Bali. Melalui foto-foto sejarah hidup Walter Spies dan dokumenter penunjang, serta potongan film sejarah dunia pada masa perang dunia pertama dan kedua, berlanjut bertemu Bali dengan beragam persoalan.

Film berdurasi 105 menit yang membawa ingatan masa lalu betapa penting sosok Walter Spies bagi perkembangan seni, pariwisata hingga modernitas Bali. Film ini tentunya bukan hanya menghadirkan sisi positif Spies bagi Bali saja, tapi juga membongkar dan mengkritisi apa yang terjadi pasca kehadiran Spies di Bali.

Untuk pemutaran film Roots di Jakarta dan Bogor sendiri dilaksanakan di tujuh venue yakni Getback Parlour, Taman Ismail Marzuki (TIM), Contemporary Art Gallery TMII, Galery Zen Galeri Cemara 6-Toeti Heraty Museum. Sedangkan untuk wilayah Bogor diputar di Hutan Rimba dan Langgar Aksara Nusantara.

Yudha Bantono selaku pemegang hak pemutaran Film Roots di Indonesia mengatakan bahwa film Roots yang membaca kembali jejak Walter Spies dan Bali telah membuka dialog untuk melihat kembali peran Seniman Jerman ini dengan segala perjalanan dan perubahan Bali yang terjadi, termasuk sisi gelap yang banyak belum terungkap.

Film Roots tidak hanya menyoroti kontribusi artistik peran Spies dari pelestarian tari hingga estetika visual, tetapi juga membuka diskursus tentang dinamika kuasa budaya, kolonialisme, dan dampak pariwisata massa yang begitu nyata”, tambah Yudha.

Tidak kalah penting, disamping pemutaran film, program road show Film Roots ini juga menghadirkan diskusi pasaca pemutarannya. Yudha Bantono sebagai pemegang hak film dan project manager pameran Roots dan pemutaran Film di Bali berserta seniman Gus Dark sebagai pendukung utama film hadir bersama untuk lebih memaknai kehadiran pemutaran film di setiap venue.


Baik Yudha dan Gus Dark, keduanya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepadai publik yang telah menyaksikan film Roots serta memberikan beragam komentar maupun kritik. “Melalui Film Roots tidak hanya menghadirkan warisan intelektual dan kekaryaan dari seorang seniman Walter Spies, tapi bagaimana ruang dialog dapat dibangun ulang untuk menghubungkan kekinian tentang Bali dengan berbagai ragam penafsiran yang secara jelas bisa diraba”, tambah Yudha.

Hal senada juga disampaikan Gus Dark, bahwa sebagai seniman dirinya tidak boleh diam apalagi dibungkam untuk berani menyuarakan Bali dengan sebenarnya. Seniman grafis dengan poster-posternya yang banyak bernuansa kritik tentang Bali ini berucap akan terus bersuara, ia percaya dengan karya-karyanya akan turut andil memberikan upaya penyadaran publik.

“Melalui pemutaran film Roots di Bandung, Bogor dan Jakarta, saya mengajak berbagai elemen masyarakat, khususnya para seniman dan insan kreatif untuk membangun jejaring yang dapat mendukung pergerakan dalam menyuarakan kebenaran, menjaga dan melindungi lingkungan. Bali bukanlah sebuah kasus, karena kejadian serupa juga telah dan bisa terjadi dimanapun”, tambah Gus Dark.

Zumar Muzammil seorang artsitek sekaligus pemerhati seni dan budaya Jakarta yang menjadi host di Getback Parlour turut memberikan kesan. Menurutnya, pemutaran film Roots adalah salah satu bagian penting dalam diskursus kehadiran senimatografi dan ruang intelektual bertemu. Ada banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman melihat film yang sangat kental akan nuansa sejarah, seni dan budaya bagi publik seni Indonesia, termasuk Bali yang menjadi magnet percakapan di dalamnya.

Saat pemutaran film di Galeri Cemara 6 dan Museum Toety Heraty, Inda C. Noerhadi selaku Direktur dan host dalam sambutannya saat sebelum pemutaran Film Roots (7/8) menyampaikan terimakasih serta apresiasi yang tinggi atas dipilihnya Galeri cemara 6 sebagai venue pemutaran Film Roots.

“Jumlah pemirsa yang ingin menonton Film Roots sangat luar biasa sejak dibuka pendaftaran melalui registrasi online, sehingga dengan ruang yang terbatas tidak dapat menampung banyak penonton. Untuk itu Galeri Cemara 6 - Museum Toety Heraty ingin memutar ulang kembali film Roots dengan jadwal yang masih dirancang”, tambah Inda yang juga putri dari mendiang Toeti Heraty.

Film Roots nemapaknya akan terus digulirkan di beberapa tempat, seperti disampaikan Yudha masih banyak tempat yang menunggu untuk diputar kembali. “Saya dengan team Film Roots masih merancang ulang untuk program pemutaran selanjutnya, termasuk tidak menutup untuk diputar kembali di Ibu Kota Jakarta’, tambah Yudha.

KEYWORD :

Michael Schindhelm Film Roots




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :