Lubang runtuhan raksasa atau sinkhole atau tiankeng di China selatan selama ini dikenal sebagai tempat berlindung berbagai spesies langka dari dampak perubahan iklim (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Lubang runtuhan raksasa atau sinkhole atau tiankeng di China selatan selama ini dikenal sebagai tempat berlindung berbagai spesies langka dari dampak perubahan iklim. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa perlindungan tersebut memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology menemukan bahwa tiankeng membantu pohon langka Magnolia aromatica bertahan dari suhu panas dan kekeringan. Di sisi lain, habitat yang terisolasi itu juga mengurangi keragaman genetik pohon tersebut, sehingga berpotensi membatasi kemampuannya beradaptasi pada masa depan.
Di kawasan pegunungan karst China barat daya, runtuhan batu kapur membentuk lubang alami berukuran raksasa yang dikenal sebagai tiankeng. Di dasar lubang ini terdapat hutan dengan kondisi lebih sejuk, lembap, dan teduh dibandingkan wilayah di sekitarnya.
Magnolia aromatica merupakan pohon yang berstatus terancam punah dan tumbuh di habitat batu kapur yang terfragmentasi. Spesies ini ditemukan baik di dalam tiankeng maupun di lereng terbuka di sekitarnya, sehingga menjadi objek penelitian untuk mengetahui dampak habitat tersebut terhadap kelangsungan hidupnya.
Tim peneliti dari South China Botanical Garden, Chinese Academy of Sciences, menyusun genom referensi hampir lengkap Magnolia aromatica.
Mereka kemudian menganalisis DNA dari 112 pohon yang berasal dari 26 populasi, baik yang hidup di dalam tiankeng maupun di luar kawasan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan pohon-pohon tersebut terbagi ke dalam empat garis keturunan genetik, termasuk dua kelompok yang terkait dengan kawasan tiankeng Leye di Guangxi. Populasi yang hanya dipisahkan beberapa kilometer ternyata telah berkembang menjadi kelompok genetik yang berbeda.
Secara keseluruhan, populasi Magnolia aromatica yang berkaitan dengan tiankeng masih memiliki tingkat keragaman genetik sedang dan jumlah mutasi merugikan yang juga berada pada tingkat sedang. Temuan ini menunjukkan tiankeng berperan sebagai habitat perlindungan yang membantu spesies bertahan menghadapi perubahan iklim pada masa lalu.
Namun, ketika peneliti membandingkan pohon yang tumbuh di dalam tiankeng dengan pohon di luar lubang, hasilnya berbeda.
Pohon yang hidup di dalam tiankeng memiliki keragaman genetik lebih rendah dan membawa lebih banyak mutasi genetik yang merugikan (deleterious mutations). Kondisi ini diduga terjadi karena populasi yang kecil dan terisolasi mengalami pertukaran gen yang sangat terbatas.
Penelitian juga menemukan adanya tanda-tanda seleksi alam pada gen yang berkaitan dengan fotosintesis dan fiksasi karbon pada pohon yang hidup di dalam tiankeng.
Untuk mengujinya, peneliti menumbuhkan bibit Magnolia aromatica di bawah tingkat pencahayaan yang berbeda.
Bibit yang mendapat sinar matahari penuh atau cahaya kuat mati dalam waktu singkat. Sebaliknya, bibit yang tumbuh di bawah naungan dengan sedikitnya separuh cahaya terhalang mampu bertahan dan tumbuh dengan baik, bahkan menunjukkan hasil terbaik pada kondisi yang paling teduh.
"Temuan ini membantu menjelaskan mengapa Magnolia aromatica dapat tumbuh baik di hutan yang redup dan lembap di dasar tiankeng," kata Xianliang Zhu.
Menurutnya, spesies tersebut tampak sangat bergantung pada lingkungan yang teduh, terutama pada tahap awal pertumbuhan bibit.
Tim peneliti juga memodelkan kondisi habitat Magnolia aromatica di masa depan.
Dalam skenario emisi tinggi, sekitar sepertiga habitat spesies ini diperkirakan menjadi tidak lagi sesuai pada tahun 2100. Penurunan terbesar diproyeksikan terjadi di wilayah tepi tiankeng, yaitu area yang selama ini menjadi jalur pertukaran gen antarpopulasi.
Model tersebut juga menunjukkan beban mutasi genetik yang merugikan diperkirakan akan terus meningkat pada sebagian besar populasi.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menilai upaya konservasi tidak cukup hanya melindungi hutan di dalam tiankeng sebagai habitat perlindungan (microrefugia).
Pohon-pohon yang tumbuh di luar tiankeng serta jalur perpindahan serbuk sari dan biji antarpopulasi juga perlu dipertahankan agar aliran gen tetap berlangsung.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa upaya konservasi perlu melindungi habitat perlindungan sekaligus menjaga konektivitas di sekitarnya. Bagi tumbuhan karst yang terancam punah, mempertahankan aliran gen antarpopulasi sama pentingnya dengan menjaga habitat khusus tempat mereka bertahan hidup," kata Ming Kang dari South China Botanical Garden.
Penelitian ini menunjukkan bahwa habitat yang mampu melindungi spesies dari kondisi lingkungan ekstrem belum tentu cukup untuk menjaga kemampuan spesies tersebut beradaptasi terhadap perubahan iklim pada masa mendatang. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Lubang Raksasa Sinkhole di China Dasar Tiankeng Magnolia aromatica




























