Sabtu, 27/06/2026 01:40 WIB

Studi Baru Ungkap Mengapa Nyamuk Pembawa Virus Mematikan Tidak Pernah Sakit





Studi terbaru menemukan virus seperti dengue dan zika sengaja

Ilustrasi nyamuk (Foto: Alodokter)

Jakarta, Jurnas.com - Nyamuk dikenal sebagai pembawa berbagai penyakit mematikan, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, hingga zika. Namun, ada satu pertanyaan yang selama ini membingungkan para ilmuwan: mengapa nyamuk tidak pernah sakit meski tubuhnya dipenuhi virus berbahaya seumur hidup?

Sebuah penelitian terbaru berhasil mengungkap jawabannya. Para peneliti menemukan bahwa virus yang hidup di dalam tubuh nyamuk ternyata memiliki strategi unik untuk bertahan hidup, yakni dengan sengaja memperlambat aktivitasnya agar tidak merusak inangnya.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS Biology oleh tim peneliti dari Pompeu Fabra University (UPF), Barcelona, Spanyol, yang dipimpin ahli virologi molekuler Juana Diez.

Dikutip dari Earth, ketika seekor nyamuk menggigit manusia yang terinfeksi virus, patogen tersebut akan berkembang biak di dalam tubuh serangga itu sepanjang hidupnya. Anehnya, nyamuk tetap sehat dan terus mampu menggigit serta menularkan virus ke banyak orang.

Untuk memahami fenomena tersebut, para peneliti menginfeksi sel nyamuk dengan virus chikungunya. Hasilnya menunjukkan sesuatu yang tidak terduga. Materi genetik virus terus bertambah dalam sel nyamuk, tetapi produksi protein virus justru ditekan dan tetap berada pada tingkat rendah.

"Seolah-olah virus sengaja mengecilkan volumenya sendiri," ujar Marc Tallo-Parra, salah satu penulis utama penelitian.

Kondisi ini disebut sebagai translational repression, yaitu keadaan ketika virus membatasi produksi proteinnya sendiri sehingga sel nyamuk tidak mengalami kerusakan. Akibatnya, sel tetap memiliki energi, terus hidup, dan mampu membelah diri tanpa mengalami kerusakan parah.

Situasi yang terjadi di tubuh manusia sangat berbeda. Saat menginfeksi manusia, virus justru mengambil alih "pabrik protein" di dalam sel untuk memperbanyak diri secara masif. Proses ini menyebabkan kerusakan sel, memicu demam, peradangan, dan berbagai gejala penyakit lainnya.

Pada nyamuk, mekanisme agresif tersebut tidak ditemukan. Protein virus yang biasanya menyerang pusat kendali sel manusia ternyata tidak aktif di dalam sel nyamuk. Akibatnya, virus berkembang jauh lebih lambat sehingga tercipta keseimbangan antara virus dan inangnya.

Para ilmuwan menyebut hubungan ini sebagai bentuk "gencatan senjata biologis" yang telah terbentuk melalui proses evolusi selama jutaan tahun.

Untuk memastikan temuan tersebut bukan hanya berlaku pada chikungunya, para peneliti juga menguji virus zika. Hasilnya sama. Virus zika juga menumpuk materi genetik di dalam sel nyamuk, tetapi produksi proteinnya tetap rendah.

Karena kedua virus berasal dari keluarga yang berbeda, para ilmuwan menduga strategi menahan diri ini merupakan mekanisme umum yang digunakan banyak virus yang ditularkan nyamuk.

Bagi virus, strategi tersebut sangat menguntungkan. Jika nyamuk mati terlalu cepat akibat infeksi, virus juga kehilangan sarana untuk menyebar ke inang berikutnya.

Temuan ini membuka peluang baru dalam upaya pengendalian penyakit yang ditularkan nyamuk.

Para peneliti menilai ada dua kemungkinan pendekatan di masa depan. Pertama, memaksa virus berkembang terlalu cepat hingga membunuh nyamuk. Kedua, menghambat kemampuan virus bertahan lama di dalam tubuh nyamuk.

Jika salah satu strategi itu berhasil diterapkan, maka kemampuan nyamuk menyebarkan penyakit seperti dengue, zika, dan chikungunya dapat ditekan secara signifikan.

Meski penelitian ini masih dilakukan pada tingkat sel di laboratorium, para ilmuwan meyakini bahwa mekanisme "menahan diri" yang dilakukan virus merupakan titik lemah yang berpotensi menjadi target utama pengembangan teknologi pengendalian penyakit di masa mendatang. (*)

KEYWORD :

Nyamuk Pembawa Virus Sel Nyamuk Virus Chikungunya




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :