Ilustrasi - Membaca niat puasa (Foto: Pexels/Sami Abdullah)
Jakarta, Jurnas.com - Puasa Asyura, puasa yang dilaksanakan pada 10 Muharram, merupakan amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Puasa ini diyakini memberi pahala yang disebut dapat menghapus dosa selam setahun ke belakang.
Berdasarkan kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, puasa Asyura 10 Muharram 1448 H dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2026.
Penanggalan tersebut sejalan dengan ketetapan Muhammadiyah yang mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal. Namun, terdapat perbedaan dengan penetapan Nahdlatul Ulama atau NU.
Menurut kalender NU, 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Karena itu, warga NU diperkirakan melaksanakan puasa Asyura pada Jumat, 26 Juni 2026.
Bulan Muharram sendiri termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Hari kesepuluh Muharram atau Hari Asyura memiliki banyak keutamaan dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Keutamaan utama dari puasa Asyura adalah penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadis riwayat Imam Muslim. Hadis tersebut menunjukkan besarnya pahala yang dijanjikan bagi umat Islam yang melaksanakan puasa Asyura.
Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada 9 Muharram atau puasa Tasu`a. Anjuran ini dimaksudkan untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dengan tradisi kaum Yahudi.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Kalau aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." Namun, Rasulullah wafat sebelum Muharram berikutnya tiba.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar puasa Asyura dilengkapi dengan puasa Tasu`a pada 9 Muharram. Sebagian ulama juga menganjurkan menambah puasa pada 11 Muharram sebagai bentuk penyempurnaan.
Meski demikian, mazhab Syafi`i menegaskan bahwa berpuasa hanya pada 10 Muharram tetap diperbolehkan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu`in.
"Tidak apa-apa mengamalkan puasa Asyura saja," demikian penjelasan Syekh Zainuddin sebagaimana dikutip NU Online. Artinya, umat Islam yang hanya mampu berpuasa pada 10 Muharram tetap memperoleh pahala besar.
Dalam menjalankan puasa Asyura, niat menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Niat puasa Asyura yang umum dibaca adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ العَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura hari ini karena Allah SWT.”
Puasa Asyura juga menjadi momen penting untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain menahan diri dari makan dan minum, puasa ini juga menjadi latihan spiritual untuk menahan amarah, memperbanyak zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sejumlah organisasi Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah turut mendorong umat Muslim agar menunaikan puasa Asyura. Mereka juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah dan makna spiritual di balik hari ini.
Hari Asyura juga mengingatkan umat Islam pada peristiwa agung dalam sejarah kenabian. Di antaranya adalah diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun di hari yang sama.
Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat besar tersebut, Nabi Musa AS berpuasa pada hari itu. Rasulullah SAW kemudian melanjutkan tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada para nabi terdahulu.
Dalam konteks keutamaan, puasa Asyura termasuk puasa paling utama setelah Ramadhan. Hadis riwayat Imam Muslim menyebutkan bahwa puasa di bulan Muharram adalah puasa yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan.
Bahkan dalam riwayat lain dijelaskan bahwa satu hari puasa di bulan Muharram setara dengan berpuasa selama tiga puluh hari. Ini menunjukkan betapa besar ganjaran dari ibadah yang sering kali dianggap ringan ini.
Maka, berpuasa di hari Asyura adalah kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apalagi jika niat diluruskan dan dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Dengan memahami makna, tata cara, dan hukum puasa Asyura secara utuh, umat Islam dapat menyambut 10 Muharram bukan sekadar sebagai tradisi, tetapi sebagai momentum spiritual yang kaya makna. (*)
Wallohu`alam
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Puasa Asyura 10 Muharram Bulan Muharram Amalan Muharram






















