Ilustrasi perempuan sedang bernegosiasi (Foto: Pexels/Yan Krukau)
Jakarta, Jurnas.com - Selama bertahun-tahun, perempuan kerap dianggap kurang unggul dalam negosiasi dibanding laki-laki. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan fakta sebaliknya: orang lebih menyukai bernegosiasi dengan perempuan, bahkan ketika mereka tidak mengetahui siapa lawan bicaranya.
Penelitian yang dipimpin oleh Charlotte Townsend dari Cornell University menemukan bahwa perempuan dan laki-laki memperoleh hasil ekonomi yang sama dalam negosiasi. Meski demikian, perempuan dinilai lebih mampu membangun hubungan positif selama proses tawar-menawar.
"Jika perempuan menciptakan hasil hubungan yang lebih baik dalam negosiasi, masuk akal jika mitra mereka lebih ingin kembali bernegosiasi dengan mereka dibandingkan dengan laki-laki," kata Townsend.
Penelitian tersebut dilakukan bersama peneliti dari University of California, Berkeley dan melibatkan lebih dari 2.000 partisipan dalam lima studi berbeda.
Dalam salah satu studi, para mahasiswa program MBA mengikuti simulasi negosiasi tatap muka dan diminta menilai pasangan negosiasinya. Hasilnya, perempuan memperoleh nilai lebih tinggi dalam aspek membangun kepercayaan, rasa keadilan, serta kemampuan memahami kebutuhan lawan bicara.
Mereka juga dinilai lebih baik dalam mendengarkan, berkomunikasi, dan menciptakan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Kelebihan tersebut membuat banyak peserta ingin kembali bernegosiasi dengan perempuan pada kesempatan berikutnya.
Untuk memastikan hasil tersebut bukan sekadar dipengaruhi stereotip gender, peneliti kemudian melakukan eksperimen negosiasi secara anonim melalui obrolan teks daring.
Para peserta dipasangkan secara acak tanpa mengetahui identitas maupun jenis kelamin lawan negosiasinya. Bahkan, pengamat independen pun tidak mampu menebak jenis kelamin peserta hanya dari transkrip percakapan.
Meski identitas disembunyikan, peserta tetap melaporkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi ketika bernegosiasi dengan perempuan.
Temuan penting lainnya adalah kemampuan membangun hubungan tersebut tidak membuat perempuan memperoleh hasil ekonomi yang lebih buruk. Dalam seluruh studi, perempuan dan laki-laki mendapatkan hasil finansial yang setara.
"Data kami menunjukkan bahwa perempuan mencapai hasil ekonomi yang setara, bahkan memperoleh hasil hubungan yang lebih baik dibandingkan laki-laki," ujar Townsend.
Peneliti juga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis ribuan percakapan negosiasi. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan lebih sering menerima tawaran pada momen yang tepat sehingga membuat lawan bicara merasa dihargai dan didengarkan.
Namun, perilaku tersebut bukan berarti perempuan lebih mudah mengalah. Mereka tetap mampu mempertahankan kepentingannya tanpa harus menerima kesepakatan yang merugikan.
Menurut para peneliti, keinginan seseorang untuk kembali bernegosiasi dengan mitra yang sama dapat memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang.
Melalui simulasi berbasis data penelitian, perempuan diperkirakan memiliki peluang hingga 45 persen lebih besar untuk terlibat dalam negosiasi lanjutan dibandingkan laki-laki.
Keunggulan tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada peningkatan pendapatan dan peluang karier selama bertahun-tahun.
Para peneliti menilai bahwa kemampuan membangun hubungan, menciptakan rasa dihargai, dan menumbuhkan kepercayaan merupakan bagian penting dari keterampilan negosiasi modern.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Proses Neogosiasi Kelebihan Perempuan Keterampilan Negosiasi




















