Sabtu, 06/06/2026 18:25 WIB

Fosil Predator Bersayap Empat Ungkap Pemburu Burung Purba di China





Penemuan fosil dinosaurus baru di China membuka babak baru dalam pemahaman ilmuwan tentang evolusi burung dan predator udara pada zaman Kapur

Ilustrasi predator sayap empat serang burung purba di China (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Penemuan fosil dinosaurus baru di China membuka babak baru dalam pemahaman ilmuwan tentang evolusi burung dan predator udara pada zaman Kapur.

Spesies yang dinamai Jian changmaensis ini merupakan kerabat dekat Velociraptor yang memiliki karakteristik unik: empat anggota tubuh bersayap yang membuatnya tampak seperti naga kecil berbulu.

Dikutip dari Live Science, fosil tersebut ditemukan di Cekungan Changma, Provinsi Gansu, China barat laut, dan diperkirakan berasal dari periode Kapur Awal sekitar 120 juta tahun lalu.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Carnegie Museum menunjukkan bahwa hewan ini kemungkinan merupakan predator arboreal yang berburu dari pepohonan dan memangsa burung-burung purba yang hidup di sekitar danau besar pada masa itu.

Berbeda dari gambaran Velociraptor dalam film populer yang berukuran besar dan bersisik, Jian termasuk kelompok microraptor, yaitu dinosaurus kecil berbulu yang memiliki kemampuan meluncur di udara.

Para peneliti meyakini Jian memiliki bulu panjang pada lengan dan kaki sehingga membentuk empat permukaan mirip sayap. Adaptasi ini memungkinkan hewan tersebut berpindah dari pohon ke pohon, serupa tupai terbang modern.

Menurut tim peneliti, ukuran Jian tergolong luar biasa besar dibandingkan microraptor lain yang pernah ditemukan. Berdasarkan panjang tulang lengan atas yang mencapai sekitar 10 sentimeter, dinosaurus ini diperkirakan memiliki bentang sayap sekitar 1,2 meter—setara burung hantu gudang modern.

"Jian merupakan salah satu spesimen microraptor terbesar yang pernah ditemukan," ujar paleontolog Jingmai O`Connor, salah satu penulis studi.

Yang membuat penemuan ini semakin menarik adalah lokasi ditemukannya fosil tersebut.

Selama lebih dari dua dekade penelitian di Cekungan Changma, para ilmuwan telah menemukan lebih dari 100 fosil burung purba, termasuk spesimen dengan jaringan lunak yang masih terawetkan seperti bulu, kulit, hingga selubung cakar.

Namun, di antara ratusan fosil itu, Jian menjadi satu-satunya fosil dinosaurus non-burung yang pernah ditemukan.

"Tim kami telah menemukan lebih dari seratus fosil burung di Changma, tetapi hanya satu spesimen dinosaurus non-unggas," kata Matthew Lamanna dari Carnegie Museum of Natural History.

Keunikan ini memunculkan dugaan bahwa Jian mungkin merupakan salah satu predator utama dalam ekosistem tersebut.

Selama bertahun-tahun, para peneliti dibuat penasaran oleh banyaknya fragmen tulang burung yang ditemukan dalam bentuk gumpalan menyerupai pelet muntahan burung hantu modern.

Sebelumnya, asal-usul kumpulan tulang tersebut belum diketahui secara pasti. Kini, keberadaan Jian memberikan petunjuk baru.

Meski belum dapat dibuktikan secara langsung, para ilmuwan menduga dinosaurus ini mungkin berperan sebagai pemburu burung yang meninggalkan jejak makanan berupa kumpulan tulang tersebut.

Hipotesis ini diperkuat oleh temuan fosil microraptor lain yang sebelumnya diketahui memangsa berbagai hewan, mulai dari ikan, kadal, mamalia kecil hingga burung.

Selain mengungkap perilaku predator purba, penemuan Jian juga memberikan informasi penting mengenai asal-usul burung modern.

Microraptor berada sangat dekat dengan garis evolusi yang melahirkan burung. Mereka memiliki kombinasi karakteristik dinosaurus dan burung, seperti cakar tajam, kaki khas raptor berbentuk sabit, serta tubuh yang ditutupi bulu.

"Microraptor memberikan gambaran tentang seperti apa nenek moyang terdekat burung pertama kemungkinan terlihat," kata Lamanna.

Karena itu, mempelajari spesies seperti Jian dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana kemampuan terbang berevolusi dari dinosaurus hingga menjadi ciri khas burung modern.

Sayangnya, fosil Jian yang ditemukan saat ini masih sangat terbatas, hanya berupa sebagian bahu dan lengan kiri yang terawetkan dalam kondisi tiga dimensi.

Meski demikian, potongan tulang tersebut sudah cukup untuk mengidentifikasi spesies baru dan mengungkap keberadaan predator unik yang pernah menguasai hutan-hutan di sekitar danau purba China 120 juta tahun lalu.

Para peneliti berharap penemuan fosil yang lebih lengkap di masa depan dapat menjelaskan lebih rinci bagaimana Jian hidup, berburu, dan bergerak di antara pepohonan pada era dinosaurus.

Penemuan ini sekaligus memperkuat gambaran bahwa evolusi burung tidak berlangsung secara sederhana, melainkan melalui berbagai bentuk transisi yang menakjubkan, termasuk kemunculan predator berbulu bersayap empat yang tampak seperti naga mini dari dunia purba. (*)

KEYWORD :

Predator Bersayap Empat Jian changmaensis Gambaran Velociraptor Burung Purba




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :