Senin, 13/04/2026 16:00 WIB

Ilmuwan Khawatir, Krisis Keanekaragaman Hayati Harus Distop Sebelum 2030





Kehilangan keanekaragaman hayati bukan lagi isu jangka panjang, melainkan krisis mendesak yang harus dihentikan sebelum 2030

Ilustrasi kerusakan lingkungan (hutan) akibat penebangan pohon (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kehilangan keanekaragaman hayati bukan lagi isu jangka panjang, melainkan krisis mendesak yang harus dihentikan sebelum 2030. Jika tidak, sistem pendukung kehidupan di Bumi terancam tidak lagi stabil.

Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang menyoroti risiko besar terhadap ekosistem, spesies, dan proses alami yang selama ini menopang kehidupan manusia.

Dikuti[ dari Earth, penelitian menunjukkan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi pada spesies, tetapi juga pada sistem alami seperti aliran air, siklus nutrisi, dan keseimbangan ekosistem.

Menurut International Union for Conservation of Nature, menjaga ekosistem tetap utuh jauh lebih penting daripada mencoba memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

Banyak wilayah yang rusak membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih, bahkan tidak cukup cepat untuk menggantikan kehilangan yang terjadi dalam waktu dekat.

Konsep utama dalam penelitian ini adalah “Nature Positive”, yaitu menghentikan dan membalikkan kerusakan alam sebelum menjadi kondisi normal baru.

Saat ini, sekitar 54% ekoregion dunia telah mengalami degradasi parah, sementara hanya seperempat yang masih relatif utuh. Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya pencegahan dibanding sekadar restorasi.

Salah satu dampak serius terlihat pada sistem air. Bendungan, polusi, dan pengalihan aliran air telah mengganggu siklus hidrologi alami.

Hanya sekitar sepertiga sungai besar di dunia yang masih mengalir bebas dari hulu ke hilir. Ketika aliran air terganggu, dampaknya meluas—mulai dari mengeringnya lahan basah hingga terganggunya migrasi ikan.

Hutan besar seperti Hutan Amazon tidak hanya menjadi habitat, tetapi juga berperan dalam menciptakan hujan. Deforestasi melemahkan sistem alami ini, yang dapat memicu kekeringan, kebakaran, dan berkurangnya curah hujan, bahkan hingga ratusan kilometer dari lokasi hutan.

Kerusakan habitat juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Ketika hutan terfragmentasi, interaksi antara manusia, hewan liar, dan ternak menjadi lebih sering.

Kondisi ini membuka peluang terjadinya “spillover”, yaitu perpindahan patogen antarspesies. Selain itu, hilangnya lingkungan alami juga berdampak pada kesehatan mental dan rasa aman masyarakat.

Pada 2022, dunia menyepakati target menghentikan kerusakan alam melalui Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Namun, kebijakan ini dinilai belum cukup memperhatikan proses penting seperti migrasi spesies dan aliran air. Akibatnya, perlindungan di atas kertas belum tentu menjaga sistem ekologi secara utuh.

Penelitian juga menyoroti pentingnya pengetahuan masyarakat adat dan lokal. Mereka sering kali lebih cepat mendeteksi perubahan lingkungan dibanding institusi besar.

Pendekatan yang melibatkan komunitas dinilai lebih efektif dalam menjaga keseimbangan alam secara berkelanjutan. Salah satu tantangan terbesar adalah cara pandang ekonomi yang masih menganggap alam sebagai “latar belakang”, bukan aset utama.

Padahal, layanan ekosistem seperti air bersih dan penyerbukan memiliki nilai besar. Tanpa perubahan kebijakan, aktivitas yang merusak alam akan terus lebih menguntungkan dibanding yang melindungi.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Science ini menegaskan bahwa dekade menuju 2030 adalah periode krusial. Jika langkah nyata tidak segera diambil, kerusakan bisa melampaui kemampuan Bumi untuk pulih.

Dengan demikian, menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi keberlangsungan hidup di planet ini. (*)

KEYWORD :

Kerusakan Alam Keanekaragaman Hayati Perubahan Lingkungan Kerusakan Alam




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :