Minggu, 12/04/2026 11:57 WIB

Para Petinggi Teknologi Global Bantah AI Penyebab PHK Massal





Semakin banyak perusahaan yang secara terang-terangan mengaitkan AI dengan pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan cerita (Foto: Earth)

San Francisco, Jurnas.com - Para pelaku industri kecerdasan buatan (AI) terus mendorong pekerja untuk bekerja lebih cerdas dan mengasah kemampuan yang lebih manusiawi, namun tetap menghindari pertanyaan tentang seberapa banyak lapangan kerja yang akan dihancurkan teknologi ini.

Pesan-pesan itu bergema di sepanjang konferensi HumanX, ajang empat hari yang dihadiri sekitar 6.500 investor, pengusaha, dan eksekutif teknologi. Namun ironisnya, sebuah iklan blak-blakan di pintu masuk langsung memasang nada: "Stop hiring humans" atau "Berhenti merekrut manusia."

Di panggung utama, CEO platform AI Writer, May Habib, menyebut para bos perusahaan Fortune 500 tengah mengalami serangan panik kolektif atas isu ini.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Semakin banyak perusahaan yang secara terang-terangan mengaitkan AI dengan pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Salesforce, misalnya, merumahkan 4.000 karyawan layanan pelanggan dengan alasan AI kini menangani 50 persen pekerjaannya. CEO Block, Jack Dorsey, juga mengumumkan rencana memangkas jumlah karyawan hingga hampir separuhnya, dengan mengutip alat kecerdasan yang telah mengubah cara perusahaan beroperasi secara mendasar.

Meski begitu, tidak semua klaim ini diterima begitu saja. Sejumlah ekonom menilai perusahaan-perusahaan tersebut menjadikan AI sebagai dalih untuk merasionalisasi PHK yang sesungguhnya dipicu oleh rekrutmen berlebihan di masa lalu atau efisiensi biaya menjelang investasi infrastruktur besar.

CEO OpenAI Sam Altman bahkan menyebut fenomena ini sebagai "AI-washing", dan sebagian besar pembicara di konferensi San Francisco itu pun menepis penggunaan AI sebagai alasan semu PHK, meski mereka secara bebas memprediksi disrupsi besar sudah di depan mata.

"AI akan mengubah setiap perusahaan, setiap pekerjaan, setiap cara kita bekerja," kata CEO Amazon Web Services, Matt Garman dikutip dari AFP pada Minggu (12/4).

Perdebatan soal AI masih terus berlangsung. Dua tahun lalu, CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan tujuan akhir AI adalah agar tidak ada yang perlu memprogram atau menulis kode. Pernyataan itu langsung dibantah oleh Andrew Ng, pendiri platform pelatihan DeepLearning.AI, pada 7 April lalu.

"Kita akan mengenang itu sebagai salah satu saran karier terburuk yang pernah diberikan," kata Ng.

Menurut dia, kemampuan coding sama sekali tidak usang. AI justru membuatnya bisa diakses oleh lebih banyak orang. Argumen lain pun kian menguat di Silicon Valley. Keterampilan interpersonal akan semakin berharga, bahkan ada yang berpendapat bahwa latar belakang pendidikan humaniora bisa menjadi bekal yang tepat untuk berkarier di industri teknologi.

"Seiring AI mampu mengerjakan lebih banyak tugas, hal-hal yang akan membedakan seorang karyawan adalah keterampilan manusiawinya, berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama tim," ujar CEO platform pelatihan Coursera, Greg Hart, yang mencatat lonjakan tiga kali lipat pendaftaran kursus berpikir kritis sepanjang 2025.

CEO Dataiku, perusahaan AI asal Prancis, Florian Douetteau, sependapat. Nilai tambah manusia yang sesungguhnya ialah "kapasitas untuk menilai dan mempertimbangkan". Dia menggambarkan sebuah dunia di mana agen AI bekerja sepanjang malam, manusia meninjau hasilnya di pagi hari, lalu agen itu kembali bekerja mandiri saat jam makan siang. Namun sang pengusaha tetap mengungkapkan kegelisahannya.

"Kita akan memiliki satu generasi yang tidak pernah menulis apa pun dari awal hingga akhir sepanjang hidup mereka. Itu cukup mengkhawatirkan," kata dia.

Semua saran ini hampa bagi generasi yang sudah kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama mereka. AI telah mengotomatiskan tugas-tugas entry-level yang dulunya berfungsi sebagai ajang pelatihan di tempat kerja.

Menurut studi oleh dana investasi SignalFire, rekrutmen kandidat dengan pengalaman kurang dari satu tahun turun 50 persen antara 2019 dan 2024 di kalangan perusahaan teknologi besar Amerika.

"Kita harus bersiap menghadapi hilangnya pekerjaan berbasis pengetahuan di berbagai kategori," kata mantan Wakil Presiden AS Al Gore, yang tampil sebagai satu-satunya suara yang benar-benar kritis di konferensi tersebut.

Gore menyerukan rencana aksi nyata untuk memetakan pekerjaan yang terancam dan mempersiapkan pekerja menghadapi transisi karier, agar tidak mengulang kesalahan era globalisasi.

KEYWORD :

Kecerdasan Buatan PHK Massal Teknologi AI Industri Silicon Valley




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :