Minggu, 12/04/2026 06:34 WIB

Serangan Israel Tewaskan 18 Orang di Lebanon Selatan





Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 18 orang di wilayah selatan Lebanon pada Sabtu 11 April 2026.

Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan wilayah di kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada 11 April 2026 (Foto: Abbas Fakih/AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 18 orang di wilayah selatan Lebanon pada Sabtu (11/4).

Otoritas Lebanon melaporkan bahwa total korban tewas sejak pecahnya perang antara Israel dan kelompok Hizbullah bulan lalu kini telah melampaui angka 2.000 jiwa.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan serangan Israel di sebuah desa dekat Sidon menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai sembilan lainnya.

Sebelumnya, otoritas setempat juga melaporkan 10 orang tewas, termasuk tiga petugas medis darurat, dalam serangan di distrik Nabatieh.

Dalam hitungan terbaru, Kementerian Kesehatan melaporkan sedikitnya 2.020 orang tewas dan 6.436 lainnya luka-luka sejak Lebanon terseret ke dalam konflik pada 2 Maret lalu.

Eskalasi ini dipicu oleh peluncuran roket Hizbullah ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, yang kemudian memicu serangan udara besar-besaran dan invasi darat oleh Israel.

Di pihak Israel, media lokal melaporkan dua tentara dari Brigade Paratroopers terluka akibat serpihan peluru saat terlibat bentrokan dengan pejuang Hizbullah di Lebanon selatan pada hari Sabtu.

Di tengah meningkatnya kekerasan, Hizbullah kembali menegaskan penolakannya terhadap negosiasi langsung antara Israel dan Lebanon.

Sebelumnya, kantor Presiden Joseph Aoun mengumumkan bahwa pejabat dari Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Washington pekan depan guna membahas deklarasi gencatan senjata dan jadwal dimulainya perundingan di bawah naungan AS.

Rencana tersebut memicu aksi protes. Ratusan massa berkumpul di dekat markas besar pemerintah di pusat kota Beirut pada hari Sabtu untuk memberikan dukungan bagi Hizbullah sekaligus menentang pembicaraan dengan Israel.

"Siapa pun yang menginginkan perdamaian dengan Israel bukanlah warga Lebanon," tegas Ruqaya Msheik, salah satu demonstran. "Mereka yang berjabat tangan dengan musuh adalah Zionis."

Meskipun tensi memanas, Hizbullah bersama sekutunya, mengeluarkan pernyataan yang meminta para pendukungnya untuk menghindari demonstrasi pada "tahap sensitif" ini demi menjaga stabilitas dan perdamaian sipil.

Namun, anggota parlemen dari Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengecam keputusan untuk mengadakan dialog langsung dengan Israel sebagai "pelanggaran nyata terhadap konstitusi dan hukum Lebanon."

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai dengan Lebanon harus "bertahan selama beberapa generasi" dan mencakup pelucutan senjata Hizbullah.

Situasi diplomatik semakin rumit setelah AS dan Iran terlibat perselisihan mengenai cakupan gencatan senjata yang diumumkan pekan ini. Dalam pertemuan bersejarah di Islamabad, Pakistan, muncul perdebatan apakah kesepakatan tersebut juga mencakup penghentian pemboman dan invasi Israel di Lebanon.

Koresponden Al Jazeera, Ali Hashem, melaporkan dari Teheran bahwa Iran mengklaim telah mendapatkan "semacam jaminan" dari AS bahwa Israel akan mengurangi intensitas serangannya.

Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel mengenai gencatan senjata di Lebanon, meskipun intensitas serangan di Beirut dan pinggiran selatan dilaporkan sedikit menurun.

KEYWORD :

Serangan Israel Lebanon Israel Benyamin Netanyahu Hizbullah Lebanon




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :