Ilustrasi - Nabi Isa AS dalam pelukan ibunya, Maryam binti Imran (Foto: tanwir)
Jakarta, Jurnas.com - Keyakinan bahwa Nabi Isa AS atau Isa bin Maryam tidak dibunuh maupun disalib merupakan bagian penting dalam akidah Islam.
Umat Islam meyakini bahwa Allah SWT menjaga para nabi-Nya dari kehinaan, termasuk dari upaya pembunuhan oleh musuh-musuh mereka. Hal ini menjadi bukti kemuliaan risalah yang dibawa oleh para utusan Allah.
Penjelasan tegas mengenai peristiwa tersebut terdapat dalam Al-Qur`an, tepatnya pada Surah An-Nisa ayat 157:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ ۖ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ
“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang diserupakan bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 157)
Ayat ini menegaskan bahwa peristiwa penyaliban Nabi Isa bukanlah kenyataan, melainkan sebuah kekeliruan persepsi akibat adanya penyerupaan (tasybih).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sosok yang disalib adalah orang lain yang dibuat menyerupai Nabi Isa atas kehendak Allah.
Fenomena penyerupaan tersebut menjadi salah satu bukti kekuasaan Allah yang mampu menggagalkan rencana jahat manusia. Orang-orang yang berselisih mengenai nasib Nabi Isa sebenarnya berada dalam kebimbangan dan tidak memiliki dasar ilmu yang pasti.
Setelah kejadian tersebut, Allah SWT mengangkat Nabi Isa ke langit dalam keadaan hidup, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikutnya:
بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 158)
Ayat ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah terhadap Nabi Isa bersifat sempurna. Ia tidak hanya diselamatkan, tetapi juga dimuliakan dengan diangkat ke sisi-Nya.
Dalam ajaran Islam, Nabi Isa juga diyakini akan kembali ke bumi menjelang akhir zaman. Hal ini didasarkan pada hadis shahih dari Nabi Muhammad SAW:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan turun di tengah kalian Isa putra Maryam sebagai hakim yang adil. Ia akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kembalinya Nabi Isa menjadi bagian dari tanda-tanda besar kiamat sekaligus penegasan atas kebenaran tauhid. Ia akan meluruskan berbagai penyimpangan akidah yang berkembang dan memimpin manusia dengan keadilan.
Para ulama sepakat bahwa mengingkari fakta bahwa Nabi Isa tidak disalib bertentangan dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an.
Oleh karena itu, pemahaman yang benar terhadap kisah ini sangat penting untuk menjaga kemurnian iman di tengah berbagai narasi yang berkembang.
Sebagai penutup, umat Islam dianjurkan untuk selalu merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dalam memahami sejarah para nabi.
Kisah Nabi Isa AS bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga pelajaran penting dalam memperkuat keyakinan dan kecintaan kepada seluruh utusan Allah.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Nabi Isa AS Kitab Al-Qur`an Kematian Nabi Isa



























