Ilustrasi - beberapa hal yang membuat orang Islam harus melakukan syahadat kembali (Foto: Baznas)
Jakarta, Jurnas.com - Dalam ajaran Islam, kalimat syahadat merupakan fondasi utama keimanan.
Ia bukan sekadar ucapan formal saat seseorang memeluk Islam, melainkan ikrar tauhid yang harus dijaga sepanjang hidup.
Karena itu, para ulama menekankan pentingnya memahami perkara-perkara yang dapat merusak keimanan, sehingga seseorang dianjurkan untuk memperbarui syahadatnya sebagai bentuk kehati-hatian dan taubat.
Syahadat adalah pernyataan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Dalam perspektif Aqidah, syahadat bukan hanya lafaz, tetapi juga keyakinan dalam hati dan pembenaran melalui amal.
Rasulullah Muhammad bersabda:
“Barang siapa yang akhir ucapannya ‘Laa ilaaha illallah’, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kemurnian kalimat tauhid hingga akhir hayat.
Berikut ini beberapa perbuatan yang Mengharuskan Pembaruan Syahadat kembali dalam Islam:
1. Melakukan Perbuatan Syirik
Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam, yaitu menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Jika seseorang terjatuh dalam syirik, maka ia wajib bertaubat dan memperbarui syahadatnya.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (QS. An-Nisa: 48)
Syirik bisa berupa menyembah selain Allah, meyakini adanya kekuatan gaib selain dari-Nya secara mutlak, atau menggantungkan ibadah kepada selain Allah.
2. Mengingkari Hal yang Sudah Pasti dalam Agama
Dalam Ilmu Fikih, dikenal istilah ma’lum minad-din bidh-dharurah (hal-hal yang pasti diketahui dalam agama). Mengingkari kewajiban seperti salat, puasa, atau zakat dapat membahayakan akidah.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
3. Menghina Allah, Rasul, atau Ajaran Islam
Mengolok-olok agama, baik secara serius maupun bercanda, termasuk perkara yang sangat berbahaya bagi keimanan.
Allah menegaskan:
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?” (QS. At-Taubah: 65)
Ayat ini menunjukkan bahwa sikap meremehkan agama bisa mengeluarkan seseorang dari keimanan.
4. Meyakini Adanya Hukum yang Lebih Baik dari Syariat
Meyakini bahwa hukum selain syariat Allah lebih baik secara mutlak termasuk bentuk penyimpangan dalam akidah.
Allah berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?” (QS. Al-Ma’idah: 50)
Namun, para ulama juga membedakan antara keyakinan (yang bisa merusak akidah) dan perbuatan karena kelemahan manusia (yang termasuk dosa).
5. Murtad Secara Terang-Terangan
Keluar dari Islam (riddah) secara jelas—baik melalui ucapan, keyakinan, maupun perbuatan—mengharuskan seseorang kembali mengucapkan syahadat jika ingin kembali ke dalam Islam.
Rasulullah Muhammad bersabda:
مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan beratnya konsekuensi keluar dari agama.
Para ulama menganjurkan memperbarui syahadat sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath) dan penyucian iman.
Bahkan tanpa melakukan hal-hal di atas, memperbanyak kalimat tauhid tetap dianjurkan.
Rasulullah Muhammad bersabda:
جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ
“Perbaruilah iman kalian.” (HR. Ahmad)
Para sahabat bertanya bagaimana caranya, lalu beliau menjawab:
أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Perbanyaklah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’.”
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Kalimat Syahadat hukum Islam Rasulullah SAW



























