Ilustrasi biduran (Foto: Doknet)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah kasus medis langka mengungkap seorang remaja perempuan mengalami biduran setiap kali kulitnya terkena air, kondisi yang akhirnya didiagnosis sebagai alergi air yang sangat jarang terjadi.
Pasien, seorang remaja di Kanada, awalnya datang ke klinik dengan keluhan biduran berulang. Ruam tersebut muncul setiap kali kulitnya bersentuhan dengan air, dengan bentol kemerahan berukuran sekitar 1 hingga 3 sentimeter.
Ia mengaku gejala pertama kali muncul sekitar dua tahun sebelumnya, tak lama setelah mulai menstruasi. Sejak saat itu, setiap kali kulitnya basah—baik karena mandi, hujan, berenang di kolam atau laut—biduran akan muncul dalam waktu sekitar 20 menit.
Dikutip dari Live Science, menariknya, reaksi ini tidak dipicu oleh keringat atau air mata. Ruam biasanya hilang dengan sendirinya dalam waktu 30 hingga 60 menit tanpa pengobatan.
Secara umum, biduran atau urtikaria biasanya terjadi akibat reaksi alergi yang memicu pelepasan histamin dalam tubuh.
Namun dalam kasus ini, hasil pemeriksaan darah dan urine pasien menunjukkan kondisi normal. Riwayat keluarga juga tidak menunjukkan adanya kasus serupa. Meski pasien memiliki alergi terhadap debu, kelinci, dan kucing, hal tersebut tidak berkaitan dengan gejala yang muncul saat terkena air.
Untuk memastikan penyebabnya, dokter melakukan uji provokasi dengan menempelkan kain yang dibasahi air suhu ruang ke kulit pasien. Hasilnya, biduran muncul dalam waktu 20 menit.
Berdasarkan riwayat dan hasil tes tersebut, dokter mendiagnosis pasien mengalami Aquagenic urticaria, yaitu alergi terhadap air.
Sebelumnya, pasien sempat mengonsumsi montelukast untuk meredakan gejala, namun hasilnya hanya sebagian efektif.
Dokter kemudian meresepkan antihistamin harian berupa Cetirizine, yang bekerja mengatasi penyebab biduran serta gejala alergi lainnya.
Dalam kontrol delapan bulan kemudian, pasien melaporkan gejala hanya muncul jika ia melewatkan dosis obat. Setelah 14 bulan, kondisinya semakin membaik dan ia dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa gangguan selama rutin mengonsumsi obat.
Kasus Aquagenic urticaria tergolong sangat langka, dengan hanya sekitar 100 kasus yang pernah dilaporkan di dunia.
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun kondisi ini umumnya muncul saat masa pubertas dan lebih sering terjadi pada perempuan.
Diagnosisnya pun tidak mudah, karena biduran bisa dipicu banyak faktor lain seperti tekanan pada kulit, suhu ekstrem, olahraga, atau alergen tertentu.
Dalam kasus ini, kombinasi riwayat medis yang rinci dan hasil uji provokasi membantu dokter memastikan penyebabnya. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Alergi Air Kulit Biduran Aquagenic Urticaria Masa Pubertas Perempuan


























