Illustrasi, Lahan pertanian kekeringan akibat perubahan iklim (jurnas/Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap temuan mengejutkan: bencana iklim ekstrem seperti kebakaran hutan, kekeringan parah, dan banjir mematikan tetap bisa terjadi lebih sering, bahkan ketika pemanasan global berada pada level “moderat”.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu global sekitar 3,6 derajat Fahrenheit (2 derajat Celsius) di atas tingkat praindustri sudah cukup memicu dampak yang sebelumnya dikaitkan dengan pemanasan ekstrem.
Dipimpin oleh Emanuele Bevacqua dari Helmholtz Center for Environmental Research, studi ini menemukan bahwa kejadian cuaca berbahaya bisa meningkat lebih sering, bahkan dalam skenario pemanasan yang relatif terbatas.
Dilansir dari Live Science, banjir besar di kota-kota padat penduduk dan kekeringan di wilayah penghasil pangan utama diperkirakan akan terjadi lebih sering. Kebakaran hutan juga berpotensi menjadi lebih intens dan merusak dibanding perkiraan sebelumnya.
Bevacqua menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti pemanasan 2°C sama buruknya dengan tingkat yang lebih tinggi, tetapi menunjukkan bahwa dampak ekstrem tetap bisa terjadi pada sektor-sektor yang rentan.
Peneliti menggunakan 50 model iklim yang sama dengan yang digunakan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change. Namun, berbeda dari pendekatan umum, mereka menganalisis setiap model secara terpisah, bukan menggunakan rata-rata.
Hasilnya menunjukkan adanya variasi besar dalam kemungkinan dampak, bahkan dalam satu skenario pemanasan yang sama.
Lantas sektor apa saja yang paling rentan? Penelitian ini fokus pada tiga sektor utama:
Fokus pertama adalah kawasan padat penduduk. Curah hujan diperkirakan meningkat 4% hingga 15%. Di kota-kota, peningkatan ini bisa memicu banjir besar karena kapasitas drainase terbatas. Dampak terburuk terlihat di India dan Afrika bagian barat-tengah.
Kedua, wilayah penghasil pangan. Dampak kekeringan sangat bervariasi.
Sekitar 1 dari 4 model menunjukkan kekeringan bisa sama parah atau lebih buruk dibanding skenario pemanasan yang lebih tinggi. Wilayah terdampak meliputi Asia Timur, Amerika Selatan, Australia tenggara, hingga Amerika Utara bagian tengah.
Sektor ketiga adalah hutan. Ada kemungkinan 1 banding 5 bahwa kondisi pemicu kebakaran hutan menjadi sama atau lebih ekstrem dibanding skenario pemanasan lebih tinggi. Wilayah paling berisiko termasuk Kanada, Afrika tengah, Eropa timur laut, dan Rusia.
Studi ini menyoroti bahwa bahkan pada pemanasan 2°C, hasil yang terjadi bisa sangat beragam, yaitu dari dampak ringan hingga ekstrem. Dalam beberapa kasus, dampaknya bahkan bisa melampaui skenario pemanasan 3°C atau 4°C.
Para peneliti menekankan bahwa fokus hanya pada rata-rata model bisa menimbulkan rasa aman yang keliru.
Bevacqua menegaskan pentingnya mempertimbangkan kemungkinan terburuk, meski peluangnya kecil, karena dampaknya bisa sangat besar.
Sementara itu, Christian Franzke menilai temuan ini menegaskan perlunya membatasi pemanasan global secepat mungkin. Ia juga menambahkan bahwa dunia nyata bisa menghadirkan kejutan yang tidak sepenuhnya tertangkap oleh model iklim.
Studi ini memperkuat pesan bahwa bahkan pemanasan global “moderat” tidak bisa dianggap aman. Risiko bencana ekstrem tetap nyata, sehingga upaya menekan kenaikan suhu global menjadi semakin mendesak. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bencana Iklim Ekstrem Kebakaran Hutan Kekeringan Parah Pemanasan Global

























