Kamis, 02/04/2026 22:06 WIB

Stres di Masa Remaja Bisa Ganggu Perkembangan Otak Berdampak Jangka Panjang





Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa stres pada masa remaja dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada otak, bahkan meningkatkan risiko gangguan mental

Ilustrasi - Anak mengalammi stres (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Stres merupakan bagian yang hampir tak terpisahkan dari masa remaja, di mana periode yang dikenal penuh emosi, intens, dan tidak terduga. Namun, kondisi ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan juga fakta biologis.

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa stres pada masa remaja dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada otak, bahkan meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi dan skizofrenia di kemudian hari.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cerebral Cortex ini menggunakan model tikus untuk melihat bagaimana stres memengaruhi perkembangan otak sejak dini.

Dilansir dari Earth, tim peneliti yang dipimpin oleh Felipe Gomes dari University of São Paulo meneliti bagian otak yang disebut korteks prefrontal—area yang berperan penting dalam pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan kemampuan berpikir.

Dalam eksperimen tersebut, tikus jantan dibagi menjadi dua kelompok remaja dan dewasa. Mereka diberi paparan stres selama 10 hari, berupa kejutan listrik ringan dan pembatasan gerak.

Hasilnya menunjukkan bahwa otak remaja yang masih berkembang jauh lebih rentan terhadap dampak stres dibandingkan otak dewasa.

Otak bekerja dengan keseimbangan antara sinyal yang merangsang (eksitatori) dan yang menghambat (inhibitori). Pada tikus remaja, stres membuat sistem ini tidak seimbang.

Neuron eksitatori menjadi terlalu aktif, sementara fungsi neuron inhibitori berubah secara permanen. Akibatnya, sistem otak menjadi tidak sinkron dan kesulitan mengatur dirinya sendiri, bahkan setelah stres berakhir.

Sebaliknya, pada tikus dewasa, gangguan ini hanya bersifat sementara dan dapat kembali normal.

Peneliti juga menemukan perubahan pada gelombang otak yang berperan dalam komunikasi antarbagian otak.

Pada tikus remaja, stres menyebabkan penurunan permanen gelombang gamma, yang berkaitan dengan perhatian dan memori kerja—fungsi yang sering terganggu pada skizofrenia.

Sementara itu, pada tikus dewasa, stres hanya menurunkan gelombang theta secara sementara, yang kemudian kembali normal.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waktu terjadinya stres sangat menentukan dampaknya terhadap kesehatan mental. Stres pada masa remaja cenderung berkaitan dengan munculnya gejala skizofrenia, sementara stres di usia dewasa lebih sering terkait dengan depresi.

Menurut peneliti, hal ini terjadi karena otak remaja masih dalam tahap perkembangan, sehingga lebih rentan terhadap gangguan.

Temuan ini menegaskan bahwa masa remaja merupakan periode krusial bagi kesehatan otak. Pengalaman stres pada fase ini dapat membentuk cara kerja otak dalam jangka panjang.

Peneliti juga menyoroti bahwa individu dengan kerentanan genetik dapat lebih mudah mengalami gangguan mental jika terpapar stres di usia muda.

Karena itu, dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar menjadi sangat penting untuk membantu remaja mengelola stres sebelum berdampak lebih jauh. (*)

KEYWORD :

Kondisi Stres Masa Remaja Dampak Stres pada Otak Kesehatan Mental




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :