Ilustrasi - Sedang berjalan kaki (Foto: Freepik)
Jakarta, Jurnas.com - Cara seseorang berjalan ternyata bukan sekadar kebiasaan fisik. Penelitian terbaru mengungkap, pola langkah kaki hingga gerakan tubuh bisa menjadi petunjuk tersembunyi kondisi mental seperti depresi dan kecemasan.
Para ilmuwan kini mulai menjawab pertanyaan menarik: apakah cara berjalan dapat mencerminkan keadaan pikiran seseorang?
Studi yang dipimpin oleh Gu Eon Kang dari University of Texas at Dallas menemukan adanya pola jelas antara cara seseorang bergerak dan kondisi mentalnya.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa depresi dan kecemasan dapat diidentifikasi dari gerakan tubuh manusia. Analisis gaya berjalan bisa menjadi metode objektif untuk mengevaluasi kesehatan mental,” ujar Kang.
Artinya, dokter di masa depan tidak hanya bergantung pada pengakuan pasien, tetapi juga bisa membaca sinyal dari gerakan tubuh.
Penelitian ini melibatkan 30 orang dewasa muda. Mereka diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat depresi dan kecemasan, lalu melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan dan berdiri dari kursi.
Setiap peserta mengenakan pakaian khusus dengan 68 penanda reflektif di tubuhnya. Sistem dengan 16 kamera kemudian merekam setiap gerakan secara detail.
Teknologi ini memungkinkan peneliti menganalisis pergerakan sendi dan kelancaran gerakan dalam aktivitas sehari-hari. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknologi pembelajaran mesin (machine learning).
Hasilnya cukup mencengangkan. Sistem mampu mengidentifikasi gejala gangguan mental dengan akurasi sekitar 75 persen dari pola berjalan, dan sekitar 77 persen dari gerakan berdiri lalu berjalan.
Temuan ini menunjukkan bahwa komputer dapat menangkap sinyal halus yang mungkin tidak disadari manusia. Perbedaan gerakan yang ditemukan memang tampak kecil, tetapi signifikan.
“Orang mungkin berpikir seseorang akan berjalan lebih lambat saat sedih. Tapi yang menarik adalah respons tubuh yang berbeda-beda,” ujar Angeloh Stout.
Ia menjelaskan bahwa peserta dengan tingkat depresi dan kecemasan lebih tinggi menunjukkan perubahan halus pada pergerakan sendi serta keraguan saat berpindah gerakan, seperti dari duduk ke berjalan.
Emosi juga terbaca dari cara jalan. Dalam studi lanjutan yang dipublikasikan di jurnal Gait & Posture, peserta diminta mengingat pengalaman emosional seperti marah, sedih, bahagia, dan takut.
Hasilnya, model AI mampu mengenali kondisi emosi dengan akurasi sekitar 59 persen, dan khusus untuk emosi sedih mencapai 66 persen.
“Percaya atau tidak, gaya berjalan mungkin menjadi cara paling andal untuk mendeteksi emosi,” kata Kang.
Penelitian ini membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi kesehatan mental. Di masa depan, perangkat wearable seperti smartwatch atau fitness tracker berpotensi memantau pola gerakan dan memberikan peringatan dini terkait kondisi mental.
Namun, Kang menegaskan bahwa teknologi ini tidak akan menggantikan dokter.
“Jika kita bisa mendeteksi potensi masalah lebih awal, orang bisa mencari bantuan lebih cepat dan hasilnya bisa jauh lebih baik,” ujarnya.
Tim peneliti berencana mengembangkan riset ini untuk mendeteksi kondisi lain seperti gangguan bipolar dan ADHD.
Selain bidang kesehatan, temuan ini juga bisa dimanfaatkan dalam industri kreatif, misalnya untuk membuat animasi karakter yang lebih realistis dalam film dan gim.
Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan, studi ini menunjukkan bahwa gerakan tubuh bukan sekadar aktivitas fisik. Studi ini dterbitkan di jurnal Gait & Posture. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Cara Jalan Kondisi Mental Kondisi Emosi


























