Selasa, 31/03/2026 14:13 WIB

Mayoritas Warga AS Sepakat AI Lebih Banyak Mudharat





Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) yang memudahkan pekerjaan manusia tak selalu bersambut positif.

Ilustrasi kecerdasan buatan atau AI (Foto: Earth)

Washington, Jurnas.com - Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) yang memudahkan pekerjaan manusia tak selalu bersambut positif. Bagi warga Amerika Serikat (AS), AI justru memiliki lebih banyak mudharat (kerugian).

Hal ini ditunjukkan oleh jajak pendapat Quinnipiac terbaru. Menurut hasil survei yang dirilis pada 30 Maret 2026 itu, 55 persen warga AS menilai AI lebih banyak merugikan daripada manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kekhawatiran warga Amerika semakin memburuk seiring perusahaan-perusahaan menginvestasikan sejumlah besar uang untuk menerapkan teknologi ini, yang telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi AS.

Sebagaimana diketahui, Amazon.com, Meta Platforms, Google, dan Microsoft berencana menghabiskan total US$650 miliar pada 2026 untuk infrastruktur AI.

Sederet miliarder AI seperti investor modal ventura Marc Andreessen dan presiden OpenAI Greg Brockman juga menggelontorkan puluhan juta dolar ke dalam pemilihan paruh waktu AS mendatang, untuk memilih kandidat yang ramah terhadap AI dan melobi regulasi yang ringan.

Pembangunan pusat data muncul sebagai salah satu pertempuran terkait AI yang paling sengit dalam pemilihan paruh waktu mendatang, menyusul protes dari berbagai komunitas di seluruh negeri.

Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (31/3), 65 persen warga Amerika menentang pembangunan pusat data AI apapun di komunitas mereka. Dampak pada biaya listrik, penggunaan air, dan kebisingan adalah alasan utama yang disebutkan oleh responden survei.

Jajak pendapat Quinnipiac juga sejalan dengan survei lain yang menunjukkan bahwa warga Amerika semakin khawatir tentang hilangnya pekerjaan dan disinformasi yang terkait dengan AI.

Kekhawatiran publik mencerminkan peringatan yang disampaikan oleh beberapa tokoh terkemuka di industri AI. CEO Anthropic, Dario Amodei, pada tahun ini memperingatkan bahwa AI akan memicu gangguan di pasar kerja.

70 persen warga Amerika berpendapat bahwa kemajuan dalam AI kemungkinan akan mengurangi peluang kerja, 14 persen lebih banyak dibandingkan pada 2025. Hanya 7 persen yang mengatakan mereka berpikir kemajuan dalam AI kemungkinan akan meningkatkan peluang kerja.

KEYWORD :

Kecerdasan Buatan Teknologi AI AI Menghilangkan Pekerjaan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :