Senin, 30/03/2026 14:45 WIB

Petama Kalinya, Penularan MERS dari Unta ke Manusia Terdeteksi di Somalia





Untuk pertama kalinya, bukti kuat penularan virus MERS dari unta ke manusia ditemukan di Somalia

Ilustrasi - Untuk pertama kalinya, bukti kuat penularan virus MERS dari unta ke manusia ditemukan di Somalia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Untuk pertama kalinya, bukti kuat penularan virus MERS dari unta ke manusia ditemukan di Somalia. Temuan ini berasal dari seorang pekerja peternakan dan mengonfirmasi kekhawatiran lama tentang potensi penyebaran virus tersebut di Afrika.

Kasus tunggal ini menjadi titik penting yang mengubah dugaan lama menjadi bukti nyata bahwa virus yang terkait dengan unta dapat berpindah ke manusia, bahkan tanpa terdeteksi dengan jelas sebelumnya.

Penelitian dilakukan terhadap 770 pekerja di wilayah Puntland, khususnya di kota Qardo. Dari ratusan sampel tersebut, hanya satu yang menunjukkan tanda pasti infeksi sebelumnya.

Dilansir dari Earth, peneliti Marian Warsame dari University of Gothenburg mengonfirmasi bahwa pekerja tersebut pernah terinfeksi, berdasarkan keberadaan antibodi dalam tubuhnya.

Meski begitu, hasil tes lanjutan pada sampel tenggorokan dan hidung menunjukkan negatif, menandakan infeksi sudah berlalu dan bukan kasus aktif saat pengambilan sampel.

Antibodi dapat bertahan dalam tubuh setelah virus hilang, menjadi penanda bahwa seseorang pernah terpapar. Dari 18 sampel yang awalnya tampak positif atau meragukan, hanya satu yang benar-benar terkonfirmasi setelah diuji ulang di laboratorium eksternal di Hong Kong.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa kapasitas laboratorium dan pelatihan di Somalia masih perlu diperkuat agar hasil pengawasan lebih akurat.

Pekerja yang terinfeksi diketahui memiliki kontak intens dengan unta setiap hari—mulai dari memerah susu, membersihkan kandang, membantu proses kelahiran, hingga merawat hewan.

Aktivitas tersebut membuatnya sering terpapar cairan tubuh unta seperti air liur dan sekresi lainnya.

Minimnya penggunaan alat pelindung seperti sarung tangan dan masker, serta kebiasaan jarang mencuci tangan, membuka peluang besar bagi virus untuk menular melalui droplet.

Selain itu, konsumsi susu unta mentah dan hati mentah juga menjadi jalur penularan yang selama ini telah diperingatkan oleh otoritas kesehatan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa paparan tidak hanya terjadi pada satu individu. Sebanyak 77 persen peserta mengaku rutin mengonsumsi produk unta.

Hampir setengahnya bahkan menggunakan produk tersebut sebagai obat tradisional, yang membuat kontak dengan bahan hewani semakin sering terjadi.

Namun, hanya sekitar 33,4 persen yang menggunakan alat pelindung saat bekerja, dan sebagian besar hanya mengandalkan sarung tangan.

Kondisi ini menggambarkan bagaimana aktivitas sehari-hari dapat meningkatkan risiko infeksi tanpa disadari.

Di negara lain, terutama di Arab Saudi, virus MERS lebih sering ditemukan pada orang yang bekerja dekat dengan unta.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa penggembala unta memiliki risiko 15 kali lebih tinggi, sementara pekerja rumah potong hewan hingga 23 kali lebih tinggi untuk terinfeksi.

Sebagian besar kasus manusia memang masih berasal dari Semenanjung Arab, dan banyak wabah besar terjadi di rumah sakit, menurut World Health Organization.

Namun, temuan di Somalia menunjukkan bahwa pola serupa juga bisa terjadi di Afrika tanpa kaitan perjalanan dari luar negeri.

Meski virus ini telah lama ditemukan pada populasi unta di Afrika, kasus pada manusia sulit terdeteksi.

Di Kenya, misalnya, peneliti menemukan beberapa pekerja unta yang terinfeksi tanpa gejala.

Infeksi ringan sering tidak terdeteksi di fasilitas kesehatan, sementara jendela waktu untuk mendeteksi virus melalui tes juga sangat singkat.

Hal ini menjelaskan mengapa risiko bisa tersembunyi selama bertahun-tahun.

Dengan populasi sekitar 7,5 juta ekor, unta bukan sekadar hewan ternak di Somalia—melainkan bagian penting dari ekonomi dan budaya.

Kontak manusia dengan unta terjadi hampir setiap hari, baik dalam perdagangan, produksi susu, maupun aktivitas rumah tangga.

Karena itu, satu kasus penularan saja sudah cukup untuk mengubah cara pandang tenaga medis dan otoritas peternakan terhadap risiko penyakit ini.

Peneliti menilai sistem pengawasan penyakit pernapasan di Somalia belum sepenuhnya dirancang untuk mendeteksi kasus pada pekerja peternakan.

Menambahkan MERS dalam prosedur diagnosis dapat membantu menemukan kasus lebih cepat.

Selain itu, peningkatan pelatihan dan kapasitas laboratorium sangat diperlukan untuk mengurangi hasil positif palsu.

“Temuan ini menegaskan pentingnya mengakui MERS-CoV sebagai kemungkinan penyebab penyakit pernapasan di Afrika,” tulis para peneliti.

Meski penting, satu kasus ini belum berarti terjadi wabah. Penelitian juga tidak menemukan penularan di dalam rumah tangga pekerja tersebut.

Selain itu, tidak ada sampel unta yang diuji secara langsung, sehingga sumber pasti dan waktu penularan belum dapat dipastikan.

Studi ini juga masih berstatus preprint, sehingga belum melalui proses peninjauan ilmiah penuh.

Meski memiliki keterbatasan, temuan ini menjadi bukti awal yang penting bahwa penularan dari unta ke manusia di Somalia memang terjadi.

Langkah berikutnya, penelitian bakal memperluas pengujian pada pekerja dan unta, memperkuat laboratorium, serta meningkatkan pengawasan penyakit pernapasan di wilayah dengan kontak tinggi terhadap unta. 

Penelitian ini dipublikasikan di platform ilmiah medRxiv. (*)

KEYWORD :

Penularan Mers Virus MERS Virus Unta Qardo Somalia Wilayah Afrika




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :