Ilustrasi - Mengenal karakter harimau Benggala (Foto: Tamansafari)
Jakarta, Jurnas.com - Belakangan ini, harimau Benggala kembali menjadi perhatian. Terlebih setelah adanya kabar kematian dua anak jenis harimau tersebut di Bandung Zoo yang bernama Hara dan Huru. Keduanya dilaporkan mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV), penyakit menular yang berisiko tinggi bagi satwa keluarga kucing.
Peristiwa tersebut bermula pada 22 Maret 2026 ketika tim medis melaporkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare pada salah satu anak harimau. Berdasarkan pemeriksaan lanjutan, infeksi virus dipastikan menjadi penyebab utama kematian satwa yang masih berusia delapan bulan itu.
Di balik kabar tersebut, harimau Benggala sejatinya dikenal sebagai salah satu kucing besar paling ikonik di dunia. Secara ilmiah bernama Panthera tigris tigris, spesies ini merupakan harimau terbesar kedua setelah Harimau Siberia.
Dikutip dari berbagai sumber, ciri fisiknya mudah dikenali melalui bulu oranye terang dengan loreng hitam yang khas, yang juga berfungsi sebagai kamuflase saat berburu. Pola garis tersebut bersifat unik layaknya sidik jari manusia, sehingga tidak ada dua individu yang memiliki motif yang sama.
Selain itu, harimau Benggala memiliki kekuatan fisik luar biasa yang didukung otot besar, rahang kuat, dan taring yang dapat mencapai panjang hingga 10 sentimeter. Cakar retraktil serta bantalan kaki yang sensitif membuatnya mampu bergerak senyap saat mengintai mangsa.
Dalam perilakunya, harimau Benggala dikenal sebagai satwa soliter yang hidup menyendiri dan menjaga wilayah teritorialnya. Mereka menandai area kekuasaan dengan aroma untuk menghindari konflik dengan sesama predator.
Sebagai pemburu, harimau ini termasuk predator nokturnal yang lebih aktif pada malam hari. Kemampuan penglihatannya bahkan disebut enam kali lebih tajam dibandingkan manusia, sehingga efektif berburu dalam kondisi minim cahaya.
Menariknya, berbeda dengan kebanyakan kucing, harimau Benggala justru sangat menyukai air. Mereka merupakan perenang andal yang kerap berendam atau bahkan memburu mangsa di perairan.
Dalam ekosistem, harimau Benggala menempati posisi sebagai predator puncak atau apex predator. Perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan populasi mangsa seperti rusa dan babi hutan, sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati.
Meski memiliki kemampuan berburu mematikan, harimau Benggala umumnya menghindari manusia. Namun dalam kondisi tertentu, seperti sakit atau kehilangan habitat, beberapa individu bisa menjadi ancaman.
Saat ini, populasi harimau Benggala di alam liar diperkirakan kurang dari 3.000 ekor dan terus menurun. Statusnya pun masuk kategori terancam punah menurut IUCN.
Ancaman terbesar berasal dari perburuan ilegal, perdagangan satwa, serta kerusakan habitat akibat deforestasi dan ekspansi manusia. Kondisi ini membuat upaya konservasi seperti perlindungan kawasan dan patroli anti-perburuan menjadi sangat krusial.
Sebagai satwa nasional di beberapa negara Asia Selatan, harimau Benggala bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem. Keberlangsungannya menjadi cerminan keseimbangan alam yang semakin terancam oleh aktivitas manusia. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Harimau Benggala Karakter harimau Benggala Panthera tigris tigris Bandung Zoo

























