Minggu, 29/03/2026 19:53 WIB

Sampai Kapan Batas Puasa Syawal 2026? Ini Penjelasannya





Puasa Syawal, puasa enam hari di bulan Syawal, merupakan salah satu amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam

Ilustrasi - Sampai Kapan Batas Puasa Syawal 2026? Ini Penjelasannya (Foto: Kajian Islam/Lspt)

Jakarta, Jurnas.com - Puasa Syawal menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam setelah Idulfitri. Ibadah puasa selama enam hari di bulan Syawal ini memiliki keutamaan besar karena pahalanya disebut setara dengan puasa satu tahun penuh.

Tahun ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan lebih awal, yakni Jumat, 20 Maret 2026.

Dengan demikian, puasa Syawal sudah bisa mulai dilaksanakan sejak 2 Syawal atau Minggu, 22 Maret 2026 bagi yang mengikuti pemerintah. Adapun batas akhirnya adalah hingga penghujung bulan Syawal yang diperkirakan jatuh pada 18 April 2026.

Artinya, umat Muslim masih memiliki waktu hingga pertengahan April untuk menunaikan enam hari puasa tersebut. Rentang waktu yang cukup panjang ini memberi fleksibilitas untuk menjalankannya secara berurutan maupun terpisah sesuai kemampuan.

Selain itu, puasa Syawal juga dapat digabung dengan puasa sunnah lain seperti Senin-Kamis. Mayoritas ulama membolehkan penggabungan niat ini, sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin karya Syaikh Abu Bakar Syatha.

Contohnya, jika seseorang ingin berpuasa pada hari Senin-Kamis sekaligus menunaikan puasa Syawal, maka cukup membaca niat gabungan. Pahalanya tetap didapat dari dua sisi, yakni puasa Senin dan puasa Syawal.

Berikut contoh bacaan niat puasa gabungan:
"Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli wa yaumil itsnaini lillâhi ta‘âlâ"
Artinya: Saya niat puasa sunnah Syawal dan hari Senin esok hari karena Allah Ta’ala.

Tak hanya itu, puasa Syawal juga bisa digabung dengan puasa Ayyamul Bidh yang jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 Syawal. Niat gabungan ini diperbolehkan dan tetap memberikan keutamaan dari kedua ibadah sekaligus.

Niat puasa gabungan tersebut dapat diucapkan dalam hati atau lisan sejak malam hari hingga sebelum fajar. Berikut contoh bacaan niat puasa gabungan Syawal dan Ayyamul Bidh

 َوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ وَ أَيَّامِ الْبِيضِ لِلهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin `an ada`i sunnatis Syawwali wa ayyâmil bîdli lillâhi ta`âlâ.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syawal dan puasa Ayyamul Bidh esok hari karena Allah SWT".

Di sisi lain, muncul pertanyaan terkait pelaksanaan puasa Syawal sebelum mengganti utang puasa Ramadan. Mengutip Nahdlatul Ulama, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun pandangan yang lebih kuat menganjurkan untuk mendahulukan qadha Ramadan sebelum menjalankan puasa Syawal.

Meski demikian, puasa Syawal tetap menjadi amalan yang dianjurkan karena keutamaannya yang besar. Selain bernilai spiritual, ibadah ini juga menjadi bentuk konsistensi dalam menjaga kebiasaan baik setelah Ramadan.

Dengan memahami batas waktu dan ketentuannya, umat Islam dapat memaksimalkan kesempatan yang ada hingga akhir Syawal. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ibadah tidak berhenti setelah Ramadan, melainkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Wallohu`alam

KEYWORD :

Puasa Syawal Puasa Senin-Kamis Ayyamul Bidh Bulan Syawal Amalan Syawal




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :