Fenomena Pink Moon, bulan purnama pertama di musim semi untuk belahan Bumi utara, bakal hiasi langit awal April (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Langit malam akan menghadirkan pemandangan istimewa pada awal April melalui kemunculan bulan purnama Pink Moon. Tahun ini, fase puncaknya terjadi pada Rabu, 1 April, sekaligus menjadi penanda penting dalam kalender keagamaan dan astronomi.
Dilansir dari Live Science, Pink Moon merupakan bulan purnama pertama di musim semi untuk belahan Bumi utara. Meski mencapai puncaknya pada 1 April, bulan ini juga akan tampak bulat dan terang pada 31 Maret hingga 2 April. Namun, hanya pada 1 April bulan akan terlihat berdekatan dengan bintang terang Spica, menciptakan pemandangan langit ganda yang menarik.
Kenapa disebut Pink Moon? meski namanya Pink Moon, bulan ini tidak benar-benar berwarna merah muda. Nama tersebut berasal dari bunga liar phlox berwarna merah muda yang banyak mekar di Amerika Utara pada bulan April, sebagaimana dicatat dalam The Old Farmer’s Almanac.
Selain itu, berbagai suku asli Amerika memiliki sebutan lain untuk bulan purnama April. Di antaranya adalah Breaking Ice Moon (Algonquin), Moon When the Streams Are Again Navigable (Dakota), hingga Budding Moon of Plants and Shrubs (Tlingit).
Ada pula sebutan Moon of the Red Grass Appearing (Oglala) serta Broken Snowshoe Moon yang digunakan oleh masyarakat Anishinaabeg di kawasan Great Lakes.
Kemunculan Pink Moon juga memiliki makna penting dalam tradisi keagamaan. Dalam kalender Yahudi, fase bulan ini menandai dimulainya festival Pesach (Passover), yang tahun ini dimulai saat matahari terbenam pada 1 April, bertepatan dengan hari ke-15 bulan Nisan dalam kalender Ibrani.
Sementara dalam tradisi Kristen Barat, bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi digunakan untuk menentukan tanggal Paskah. Karena ekuinoks jatuh pada 20 Maret dan bulan purnama berikutnya terjadi pada 1 April, maka Hari Paskah dirayakan pada Minggu, 5 April. Adapun tradisi Ortodoks Timur merayakannya seminggu kemudian, yakni 12 April.
Kapan waktu terbaik untuk menyaksikan Pink Moon? Jawabannya adalah pada 1 April saat bulan terbit di ufuk timur, bersamaan dengan terbenamnya matahari.
Pengamat disarankan mencari lokasi dengan pandangan terbuka ke arah timur. Di langit, bulan akan tampak dekat dengan Spica, bintang terang di rasi Virgo.
Keesokan harinya, 2 April, bulan yang mulai memasuki fase cembung menyusut (waning gibbous) akan berada sangat dekat dengan Spica, hanya berjarak sekitar 1,8 derajat.
Setelah Pink Moon, fenomena bulan purnama berikutnya akan terjadi pada 1 Mei, yang dikenal sebagai Flower Moon. Bulan ini juga memiliki sebutan lain seperti Corn Planting Moon dan Milk Moon.
Menariknya, Mei tahun ini akan memiliki dua kali bulan purnama. Selain pada awal bulan, purnama kedua akan terjadi pada 31 Mei dan dikenal sebagai Blue Moon, istilah untuk bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender.
Fenomena beruntun ini menjadikan langit malam dalam beberapa bulan ke depan sebagai momen menarik bagi para pengamat astronomi maupun masyarakat umum yang ingin menikmati keindahan alam semesta. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Fenomena Astronomi Pink Moon Bulan Purnama Blue Moon

























