Jum'at, 27/03/2026 10:52 WIB

9 Tradisi Unik Syawalan di Indonesia, dari Lebaran Ketupat-Meugang Aceh





Setiap tradisi bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana memperkuat silaturahmi, gotong royong, dan rasa syukur setelah sebulan penuh menunaikan puasa

Ilustrasi - Bulan Syawal serta ragam tradisi Syawalan di Indonesia (Foto: Kajian Islam/Lspt)

Jakarta, Jurnas.com - Setelah Idulfitri, bulan Syawal di Indonesia bukan sekadar waktu beristirahat atau kembali beraktivitas. Di berbagai daerah, masyarakat merayakannya dengan tradisi unik yang memadukan adat, budaya, dan spiritualitas.

Setiap tradisi bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana memperkuat silaturahmi, gotong royong, dan rasa syukur setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa.

Di Jawa dan Lombok, Lebaran Ketupat menjadi tradisi yang paling dikenal. Seminggu setelah Idulfitri, masyarakat berkumpul untuk menikmati ketupat bersama sebagai simbol kebersamaan dan pengampunan. Makanan khas ini menjadi pengingat bahwa Syawal bukan sekadar waktu bersuka cita, tetapi juga momen untuk mempererat hubungan sosial.

Sementara itu, di Maluku, masyarakat menyusun tempurung kelapa menyerupai gunung kecil dan membakarnya dalam tradisi Bakar Gunung Api. Api yang menyala melambangkan semangat baru dan harapan keberkahan di bulan Syawal, sekaligus menjadi tontonan yang meriah bagi seluruh komunitas.

Di Palembang dan sekitarnya, tradisi Baraan memperlihatkan sisi kebersamaan yang khas. Warga mengunjungi rumah-rumah tetangga secara berkelompok, sambil menikmati hidangan khas lebaran. Kegiatan ini memperkuat silaturahmi dan rasa persaudaraan, sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal.

Di Yogyakarta, Grebeg Syawal menjadi perayaan yang tak pernah sepi dari perhatian publik. Dari keraton, iring-iringan gunungan hasil bumi diarak menuju masjid agung, lalu diperebutkan masyarakat sebagai simbol berkah dan rezeki. Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai spiritual dan sosial berpadu dalam satu perayaan.

Di Bali, tradisi Ngejot menjadi bukti keberagaman yang harmonis. Umat Muslim membagikan makanan kepada tetangga non-Muslim, menegaskan toleransi dan persaudaraan di tengah keberagaman agama. Sedangkan di Sumatera Barat, Malamang dilakukan dengan memasak lemang secara bersama-sama, mencerminkan kebersamaan keluarga dalam menyambut Syawal.

Bengkulu punya tradisi Ronjok Sayak, di mana masyarakat membakar tumpukan batok kelapa sebagai simbol semangat baru. Api yang menyala menandai pembaruan dan harapan positif pasca-Ramadan, sekaligus menjadi ritual kebersamaan masyarakat setempat.

Di Banyuwangi, tradisi Endog-endogan menampilkan kreativitas lokal yang unik. Telur hias digantung di pohon sebagai simbol kelahiran kembali dan kebersamaan, lalu dibagikan kepada anak-anak sebagai bentuk berbagi kebahagiaan.

Sementara di Aceh, Meugang Syawal tetap dilestarikan. Masyarakat memasak daging sapi atau kambing untuk disantap bersama keluarga, sebagai wujud syukur atas rezeki dan kelimpahan yang diterima setelah Ramadan. Tradisi ini menegaskan bahwa Syawal juga menjadi momentum berbagi dan mempererat ikatan keluarga.

Ragam tradisi unik Syawalan di Indonesia menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki cara khas untuk mengekspresikan syukur dan kebersamaan. Dari ketupat, api, lemang, hingga telur hias, setiap praktik mengingatkan kita bahwa budaya lokal dan spiritualitas tetap hidup harmonis, sekaligus menjadi penghubung generasi masa kini dengan nilai-nilai leluhur. (*)

Sumber: Berbagai sumber

KEYWORD :

Tradisi Unik Tradisi Syawalan Grebeg Syawal Meugang Aceh Bulan Syawal




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :