Jum'at, 27/03/2026 08:57 WIB

Ilmuwan Temukan Hormon Ini Bisa Atur Saraf-Ringankan Nyeri Punggung Kronis





Nyeri punggung kronis selama ini kerap dianggap kondisi yang hanya bisa dikelola, bukan disembuhkan

Ilustrasi sakit punggung atau bokong (foto:theAsianparent)

Jakarta, Jurnas.com - Nyeri punggung kronis selama ini kerap dianggap kondisi yang hanya bisa dikelola, bukan disembuhkan. Namun riset terbaru dari Johns Hopkins University School of Medicine membuka kemungkinan baru: rasa sakit itu mungkin muncul karena serabut saraf tumbuh ke area tulang belakang yang seharusnya tidak mereka masuki.

Temuan ini sekaligus mengubah cara pandang ilmuwan terhadap salah satu penyebab disabilitas terbesar di dunia. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Bone Research, peneliti menemukan bahwa proses tersebut berpotensi dibalik melalui pendekatan biologis tertentu.

Penelitian yang dipimpin oleh Janet Crane menunjukkan bahwa hormon pembentuk tulang mampu “mengusir” saraf penyebab nyeri dari jaringan yang rusak. Akibatnya, struktur tulang membaik sekaligus sensitivitas terhadap nyeri menurun secara signifikan pada model percobaan.

Lebih jauh, perbaikan terjadi pada bagian tulang belakang yang disebut endplate, yakni lapisan tipis antara tulang dan cakram. Ketika area ini rusak dan berpori, ia menjadi pintu masuk bagi peradangan dan pertumbuhan saraf nyeri yang tidak normal.

Namun seiring terapi berlangsung, struktur tersebut menjadi lebih padat dan stabil. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara anatomi, tetapi juga tercermin pada perilaku: subjek penelitian mampu menahan tekanan lebih baik dan bergerak lebih aktif.

Di sisi lain, mekanisme biologis di balik fenomena ini juga mulai terungkap. Sel pembentuk tulang atau osteoblas memproduksi protein bernama Slit3, yang berfungsi sebagai “penolak” alami bagi pertumbuhan saraf ke area sensitif.

Dengan kata lain, tubuh sebenarnya memiliki sistem bawaan untuk mengendalikan rasa sakit, hanya saja sistem ini melemah saat terjadi degenerasi. Ketika hormon tersebut mengaktifkan kembali sinyal ini, saraf yang sebelumnya menyerbu jaringan rusak perlahan mundur.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap awal. Uji coba dilakukan pada hewan, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kompleksitas nyeri punggung pada manusia.

Kendati begitu, sinyal awal pada manusia mulai terlihat. Obat berbasis hormon serupa, seperti teriparatide yang selama ini digunakan untuk osteoporosis, dilaporkan mampu menurunkan tingkat nyeri pada beberapa pasien.

Temuan ini membuka peluang baru dalam dunia medis, bahwa nyeri punggung kronis bukan sekadar gejala yang harus ditahan. Jika mekanisme ini terbukti pada manusia, pendekatan terapi di masa depan bisa beralih dari sekadar meredakan menjadi benar-benar memperbaiki sumber rasa sakit. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Saraf Kejepit Nyeri Punggung Hormon Teriparatide




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :