Ilustrasi - Penemuaan zona aman-waktu terbaik beraktivitas di Bulan (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Penelitian terbaru mengungkap adanya “rongga” radiasi kosmik di sekitar Bulan yang berpotensi mengubah cara manusia menjelajah luar angkasa. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan radiasi di Bulan tidak selalu merata seperti yang selama ini diyakini para ilmuwan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menggunakan data dari wahana pendarat Chang`e-4 milik China. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan signifikan radiasi kosmik pada waktu tertentu, khususnya saat “pagi hari” di permukaan Bulan.
Fenomena ini berkaitan dengan sinar kosmik galaksi, partikel berenergi tinggi yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi astronot. Paparan radiasi tersebut dapat menembus tubuh manusia dan meningkatkan risiko kerusakan DNA hingga kanker.
Akhirnya Terbukti! Covid-19 Menyebar via Udara
Menariknya, peneliti menemukan bahwa tingkat radiasi dapat berkurang hingga sekitar 20 persen selama periode pagi Bulan. Penurunan ini terjadi saat Bulan berada pada fase tertentu dalam orbitnya, yang memungkinkan sebagian radiasi terhalang oleh medan magnet Bumi.
Temuan ini menantang asumsi lama bahwa radiasi di ruang antara Bumi dan Bulan bersifat seragam di luar perlindungan magnetosfer. Sebaliknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa Magnetosfer Bumi memiliki pengaruh yang lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.
Ilmuwan China Akui Curi Teknologi Baterai AS
Para ilmuwan menyebut area ini sebagai “cavity” atau rongga radiasi, yaitu zona dengan intensitas sinar kosmik yang lebih rendah. Simulasi komputer yang dilakukan tim peneliti juga mengonfirmasi keberadaan zona ini sebagai efek dari interaksi partikel dengan medan magnet Bumi.
Penemuan ini dinilai sangat penting di tengah meningkatnya rencana eksplorasi Bulan. Salah satunya adalah misi Artemis II yang direncanakan oleh NASA untuk membawa manusia kembali ke orbit Bulan dalam waktu dekat.
Dengan pemahaman baru ini, perencanaan aktivitas di permukaan Bulan dapat disesuaikan untuk meminimalkan paparan radiasi. Para peneliti menyarankan agar aktivitas luar ruangan dilakukan pada pagi hari lokal Bulan, ketika tingkat radiasi relatif lebih rendah.
Selain meningkatkan keselamatan astronot, temuan ini juga membuka peluang untuk merancang strategi eksplorasi yang lebih efisien. Pengetahuan tentang distribusi radiasi dapat membantu menentukan lokasi pendaratan hingga durasi aktivitas di luar wahana.
Ke depan, penelitian lanjutan dengan data yang lebih besar diharapkan dapat memetakan secara detail ukuran dan dinamika rongga radiasi tersebut. Hal ini menjadi langkah penting menuju era eksplorasi Bulan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Penemuan ini sekaligus mengubah cara pandang ilmuwan terhadap ruang antariksa di sekitar Bumi. Apa yang sebelumnya dianggap kosong dan seragam, kini terbukti memiliki dinamika kompleks yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung misi manusia ke luar angkasa. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Ilmuwan China Chinese Lander Zona Aman Waktu Terbaik Beraktivitas Permukaan Bulan


























