Penampakan rudal Iran (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Di tengah dinamika konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, kehadiran rudal Sejjil menjadi sorotan sebagai salah satu sistem persenjataan paling canggih milik Teheran. Rudal ini tidak hanya merepresentasikan kekuatan militer, tetapi juga memuat simbolisme religius yang kuat.
Sejjil merupakan rudal balistik jarak menengah atau MRBM yang dirancang untuk menjangkau target hingga ribuan kilometer dengan kecepatan tinggi. Kemampuannya menjadikan rudal ini sebagai salah satu elemen penting dalam strategi pertahanan dan daya gentar Iran di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari berbagai sumber, pengembangan Sejjil dimulai pada akhir 1990-an sebagai evolusi dari seri rudal sebelumnya, termasuk Zelzal. Terobosan utama terletak pada penggunaan bahan bakar padat dua tahap, yang membuatnya lebih cepat diluncurkan dan lebih sulit dideteksi dibandingkan rudal berbahan bakar cair seperti Shahab.
Uji coba pertama dilakukan pada 2008 dengan jangkauan awal sekitar 800 kilometer, kemudian disempurnakan dalam berbagai peluncuran lanjutan. Dalam pengujian berikutnya, jangkauan Sejjil meningkat hingga mendekati 2.000 kilometer, memperluas cakupan target strategis di kawasan.
Secara teknis, Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter dengan berat peluncuran lebih dari 23 ton. Rudal ini mampu membawa hulu ledak sekitar 700 kilogram dan melaju dengan kecepatan hingga Mach 12–14 saat memasuki atmosfer, menjadikannya sulit dicegat sistem pertahanan udara.
Keunggulan bahan bakar padat juga memberikan fleksibilitas tinggi dalam mobilitas dan waktu persiapan peluncuran. Hal ini membuat Sejjil dinilai lebih responsif dalam situasi konflik dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun demikian, daya tarik utama rudal ini tidak hanya terletak pada spesifikasi militernya. Nama “Sejjil” diambil dari kata “Sijjil” yang disebut dalam Al-Qur`an, tepatnya dalam Surah Al-Fil.
Dalam kisah tersebut, Allah mengirim burung Ababil untuk menghancurkan pasukan bergajah pimpinan Abrahah yang hendak menyerang Ka’bah. Burung-burung itu melemparkan batu dari tanah liat yang dibakar, disebut “sijjil” yang menghancurkan pasukan secara menyeluruh.
Dalam berbagai tafsir klasik, batu sijjil digambarkan memiliki kekuatan luar biasa hingga mampu meluluhlantakkan musuh. Makna ini kemudian diadopsi sebagai simbol kekuatan destruktif yang dahsyat dan tak terhindarkan.
Dengan memilih nama tersebut, Iran tidak sekadar menamai sistem persenjataannya, tetapi juga menyematkan pesan ideologis. Sejjil diposisikan sebagai simbol kekuatan yang bukan hanya teknologis, tetapi juga memiliki dimensi historis dan spiritual.
Seiring waktu, pengembangan Sejjil terus berlanjut dengan munculnya varian lanjutan seperti Sejjil-2 dan kemungkinan generasi berikutnya. Meski jarang ditampilkan ke publik, rudal ini tetap menjadi bagian penting dalam kalkulasi militer kawasan.
Dengan demikian, Sejjil mencerminkan perpaduan antara teknologi modern dan simbolisme keagamaan dalam strategi pertahanan Iran. Ia tidak hanya menjadi alat militer, tetapi juga representasi narasi kekuatan yang berakar pada sejarah dan keyakinan religius. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Rudal Sejjil Rudal Iran Kisah Al-Quran Surah Al-Fil Burung Ababil Sejjil 2


























