Sabtu, 21/03/2026 06:25 WIB

Investasi Hilir Minerba Tembus Rp431 Triliun, MIND ID Dorong Sinergi





Realisasi investasi hilirisasi menunjukkan tren signifikan. Pemerintah mencatat investasi Rp431,4 triliun sepanjang Januari-September 2025.

Kegiatan KILAS Balik Ramadan (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Division Head Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, menekankan pentingnya sinergi lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat investasi dan hilirisasi sektor mineral dan batu bara (minerba) di dalam negeri. Upaya ini dinilai krusial untuk mendorong penciptaan nilai tambah dan memperkokoh struktur industri nasional.

Dalam dua tahun terakhir, realisasi investasi hilirisasi menunjukkan tren signifikan. Pemerintah mencatat investasi hilirisasi sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai Rp431,4 triliun, meningkat 58,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian ini, lanjut Selly, memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi motor penggerak transformasi industri berbasis sumber daya alam.

“Hilirisasi merupakan proses jangka panjang yang menuntut konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak,” ujar Selly dalam kegiatan KILAS Balik Ramadan. Dia menekankan bahwa sinergi menjadi kunci agar sektor pertambangan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas dan inklusif bagi Indonesia.

Menurut Selly, percepatan hilirisasi harus didukung oleh keselarasan kebijakan serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga investor. Tanpa kolaborasi yang solid, potensi besar sumber daya mineral Indonesia tidak akan optimal dikonversi menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Selly menyebut Grup MIND ID terus mendorong agenda tersebut melalui sejumlah proyek strategis. Inisiatif yang dikembangkan mencakup fasilitas pengolahan bauksit hingga aluminium, smelter tembaga dan Precious Metal Refinery di Gresik, proyek hilirisasi nikel di Sulawesi, serta penguatan infrastruktur logistik batu bara.

Namun demikian, Selly mengakui bahwa perjalanan hilirisasi masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari volatilitas harga komoditas global, perubahan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional yang dapat memengaruhi biaya produksi serta strategi bisnis industri tambang.

Di sisi domestik, dia menilai kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah telah membuka peluang besar bagi pengembangan industri pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Kebijakan ini diarahkan untuk membangun rantai pasok yang lebih utuh sekaligus mendorong Indonesia naik kelas sebagai produsen produk jadi berbasis teknologi tinggi.

Indonesia memiliki basis sumber daya yang sangat kuat untuk mendukung hilirisasi. Cadangan nikel yang mencapai sekitar 55 juta ton, bauksit 2,865 miliar ton, serta batu bara 31,96 miliar ton menjadi modal utama dalam memperkuat investasi sektor minerba jangka panjang.

"KILAS menjadi ruang strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi capaian program strategis dan memastikan setiap tantangan yang dihadapi mampu diselesaikan dengan langkah yang disepakati bersama," kata Selly.

Dia menambahkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa kuat fondasi industri yang dibangun serta dampaknya terhadap perekonomian nasional. Dengan sinergi yang terjaga, hilirisasi diharapkan mampu menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

KEYWORD :

investasi hilirisasi minerba Indonesia MIND ID




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :