Jum'at, 20/03/2026 23:32 WIB

Mengapa Ketupat Identik dengan Lebaran? Ini Sejarah-Filosofi di Baliknya





Setiap perayaan Lebaran atau Idulfitri di Indonesia selalu identik dengan satu hidangan khas yang sulit dipisahkan dari tradisi, yakni ketupat

Ketupat, makanan khas yang terbuat dari beras yang biasannya dibungkus dalam daun kelapa atau janur (Foto: RRI)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap perayaan Lebaran atau Idulfitri di Indonesia selalu identik dengan satu hidangan khas yang sulit dipisahkan dari tradisi, yakni ketupat. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap meja makan, tetapi telah menjadi simbol kuat dari makna Lebaran itu sendiri.

Di berbagai daerah, ketupat, makanan khas yang terbuat dari beras yang biasannya dibungkus daun kelapa atau janur ini hampir selalu hadir saat momen berkumpul bersama keluarga. Bahkan, tanpa hidangan ini, suasana Lebaran sering terasa kurang lengkap, baik sebagai makanan maupun dekorasi khas hari raya.

Namun, ketupat bukanlah tradisi yang muncul begitu saja. Jejak sejarahnya dapat ditelusuri hingga masa kerajaan-kerajaan Jawa seperti Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran, ketika ketupat digunakan dalam ritual yang berkaitan dengan kesuburan dan pertanian.

Dikutip dari berbagai sumber, seiring berkembangnya Islam di Nusantara, ketupat kemudian diadaptasi menjadi bagian dari dakwah oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo. Ia memanfaatkan budaya lokal agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat, termasuk melalui tradisi kuliner.

Dari sinilah muncul tradisi “Lebaran Kupat” yang dirayakan sekitar sepekan setelah Idulfitri, dikenal juga sebagai Grebeg Syawal. Tradisi ini menjadi bentuk perayaan lanjutan yang sarat nilai spiritual dan sosial di masyarakat Jawa.

Secara filosofis, ketupat memiliki makna yang dalam dan tidak sekadar makanan biasa. Dalam bahasa Jawa, “kupat” sering dimaknai sebagai akronim dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan.

Makna ini sejalan dengan esensi Lebaran sebagai momen saling memaafkan dan membersihkan diri dari dosa. Ketupat pun menjadi simbol pengakuan, keikhlasan, dan pembaruan diri setelah menjalani ibadah puasa.

Selain itu, bentuk ketupat yang menyerupai segi empat juga mengandung simbolisme tersendiri. Dalam budaya Jawa, angka empat melambangkan keseimbangan, baik dari sisi arah mata angin maupun nilai-nilai kehidupan spiritual.

Makna ini bahkan dikaitkan dengan berbagai aspek penting dalam tradisi Islam, seperti empat mazhab utama serta para khulafaur rasyidin. Hal tersebut menunjukkan bagaimana ketupat menjadi titik temu antara budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan.

Lebih jauh, dalam tradisi Jawa seperti Grebeg Syawal, ketupat juga dikaitkan dengan simbol pengendalian nafsu manusia. Representasi ini digambarkan melalui berbagai karakter hewan yang melambangkan sifat dasar manusia yang harus dikendalikan.

Nilai tersebut mengajarkan bahwa Lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, ketupat menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.

Kini, ketupat tidak hanya menjadi hidangan khas, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas budaya. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari perayaan Lebaran di Indonesia. (*)

KEYWORD :

Hidangan Ketupat Kuliner Khas Lebaran Hari Raya Idulfitri Perayaan Lebaran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :