Kamis, 19/03/2026 23:39 WIB

Mengapa Kue Nastar Identik dengan Lebaran? Ini Sejarah-Maknanya di RI





Setiap kali Idulfitri tiba, satu kue hampir selalu hadir di meja tamu masyarakat Indonesia, yakni nastar

Ilustrasi kue nastar (Foto: IDN Times)

Bandung, Jurnas.com - Setiap kali Idulfitri tiba, satu kue hampir selalu hadir di meja tamu masyarakat Indonesia, yakni nastar. Kue kecil berisi selai nanas ini seolah menjadi simbol tak terpisahkan dari suasana Lebaran dan tradisi silaturahmi.

Namun di balik popularitasnya, nastar ternyata bukan kue asli Indonesia, melainkan hasil adaptasi budaya yang panjang. Asal-usulnya justru dapat ditelusuri ke Eropa, khususnya Belanda, yang kemudian berkembang dan bertransformasi di Nusantara.

Nama “nastar” sendiri berasal dari gabungan dua kata Belanda, yaitu ananas yang berarti nanas dan taart yang berarti kue atau pai. Pada awalnya, kue ini terinspirasi dari pai buah khas Eropa yang biasanya menggunakan stroberi, apel, atau blueberry sebagai isian.

Namun, ketika tradisi tersebut masuk ke Indonesia pada masa kolonial, bahan-bahan asli Eropa sulit ditemukan. Sebagai gantinya, nanas yang melimpah di wilayah tropis dipilih karena memiliki rasa manis-asam yang mirip, sehingga lahirlah nastar versi lokal yang kini dikenal luas.

Pada masa itu, nastar bukanlah kue yang bisa dinikmati semua kalangan. Kue ini justru menjadi hidangan eksklusif bagi kaum elite dan priyayi, sehingga memiliki citra sebagai sajian istimewa dalam perayaan tertentu.

Seiring waktu, nastar mengalami proses adaptasi yang membuatnya semakin dekat dengan budaya Indonesia. Bentuknya dibuat kecil dan praktis, sementara tampilannya dihias dengan berbagai variasi seperti cengkeh, kismis, hingga keju agar lebih menarik.

Perkembangan ini membuat nastar tidak hanya sekadar kue, tetapi juga bagian dari tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Kehadirannya saat Lebaran menjadi simbol keramahan tuan rumah dalam menyambut tamu yang datang bersilaturahmi.

Selain itu, nastar juga kerap disajikan bersama kue khas Lebaran lainnya seperti kastengel dan putri salju, yang memperkuat identitasnya sebagai bagian dari budaya hari raya. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi kebiasaan mengirim hampers sebagai bentuk perhatian dan kedekatan sosial.

Menariknya, nastar juga memiliki makna simbolis di beberapa budaya lain, terutama di Tiongkok. Warna kuning keemasan pada kue ini sering diartikan sebagai lambang kemakmuran dan keberuntungan, sehingga turut hadir dalam perayaan seperti Imlek.

Meski begitu, di Indonesia, makna nastar lebih menonjol sebagai simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga. Banyak orang memilih membuatnya sendiri di rumah, menjadikannya bukan sekadar hidangan, tetapi juga bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Kini, nastar tidak hanya populer saat Lebaran, tetapi juga hadir dalam berbagai perayaan lain seperti Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, identitasnya sebagai “kue Lebaran” tetap kuat dan sulit tergantikan oleh kue lainnya.

Dengan perjalanan sejarah yang panjang, nastar menjadi contoh bagaimana sebuah makanan dapat melintasi budaya, beradaptasi, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas lokal. Di setiap gigitan nastar, tersimpan cerita tentang tradisi, sejarah, dan manisnya kebersamaan saat hari raya. (*)

Sumber: Berbagai sumber

KEYWORD :

Kue Nastar Kuliner Khas Lebaran Idul Fitri




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :