Ilustrasi suhu panas ekstrem (Foto: kupastuntas)
Jakarta, Jurnas.com - Dunia berpotensi menghadapi lonjakan suhu ekstrem dalam waktu dekat seiring munculnya fenomena El Niño yang diprediksi semakin menguat.
Para peramal cuaca bahkan memperingatkan kemungkinan terbentuknya “super El Niño” yang bisa mendorong suhu global ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perkiraan ini muncul setelah fase dingin La Niña yang saat ini masih berlangsung diprediksi segera berakhir. Perubahan suhu laut di Samudra Pasifik tropis menjadi sinyal utama pergeseran menuju fase pemanasan yang lebih kuat.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration melalui Climate Prediction Center, peluang terbentuknya El Niño antara Juni hingga Agustus mencapai sekitar 62 persen. Artinya, kondisi ini lebih mungkin terjadi daripada tidak dalam beberapa bulan ke depan.
El Niño sendiri merupakan fase hangat dari sistem iklim global yang dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation atau ENSO. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur meningkat, sehingga memengaruhi pola angin dan cuaca di berbagai belahan dunia.
Ketika El Niño berkembang, dampaknya tidak hanya terasa di kawasan Pasifik, tetapi juga secara global. Pola hujan dapat berubah drastis, wilayah tertentu menjadi lebih kering, sementara daerah lain justru berisiko mengalami banjir.
Sementara itu, kondisi saat ini masih berada dalam fase La Niña, yang ditandai dengan suhu laut lebih dingin dari rata-rata. Namun, pemanasan bertahap yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir menjadi indikasi kuat bahwa transisi menuju El Niño sedang berlangsung.
Jika suhu permukaan laut terus meningkat dan melampaui ambang batas tertentu, maka El Niño dapat berkembang menjadi “super El Niño”. Kondisi ini terjadi ketika anomali suhu mencapai sekitar 2 derajat Celsius di atas rata-rata, yang berpotensi memicu dampak iklim yang jauh lebih ekstrem.
Laporan dari AccuWeather menyebutkan adanya peluang, meski kecil, sekitar 15 persen, bahwa super El Niño bisa terbentuk menjelang akhir musim badai pada November. Namun demikian, ketidakpastian masih tinggi terkait seberapa kuat fenomena ini akan berkembang.
Di sisi lain, para ahli memperkirakan bahwa El Niño berpotensi memengaruhi aktivitas badai global. Fenomena ini cenderung meningkatkan badai di Pasifik, tetapi justru menekan pembentukan badai di Atlantik, sehingga pola musim badai bisa berubah signifikan.
Secara alami, siklus ENSO yang mencakup El Niño dan La Niña terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Meski demikian, waktu kemunculan dan intensitasnya tidak selalu dapat diprediksi secara pasti, sehingga setiap fase bisa membawa dampak yang berbeda.
Dengan latar belakang pemanasan global yang terus berlangsung, kemunculan El Niño yang kuat dikhawatirkan akan memperparah kondisi iklim ekstrem.
Karena itu, para ilmuwan menekankan pentingnya kewaspadaan dini terhadap potensi dampak luas, mulai dari cuaca ekstrem hingga tekanan pada sistem pangan dan energi dunia.
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Super El Nino Dampak El Nino Suhu Global Suhu Ekstrem


























