Senin, 16/02/2026 20:25 WIB

Amankah Jika Penguin Melihat Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026?





Gerhana matahari cincin atau ring of fire pada 17 Februari 2026 diperkirakan akan disaksikan lebih banyak penguin daripada manusia

Ilustrasi penguin melihat gerhana matahari cincin (Foto: Space)

Jakarta, Jurnas.com - Gerhana matahari cincin atau ring of fire pada 17 Februari 2026 diperkirakan akan disaksikan lebih banyak penguin daripada manusia. Jalur annularitas sepanjang 4.282 kilometer itu membentang melintasi Antartika bagian barat dan menyentuh pesisir Laut Davis di Samudra Selatan, wilayah yang nyaris tanpa populasi manusia.

Meski fase cincin api hanya terlihat di Antartika, fase gerhana sebagian dapat diamati di Afrika bagian tenggara, ujung selatan Amerika Selatan, serta sebagian wilayah Samudra Pasifik, Hindia, Atlantik, dan Selatan. Namun pertanyaan yang mengemuka bukan hanya soal siapa yang melihatnya, melainkan bagaimana satwa liar, terutama penguin, bereaksi terhadap perubahan cahaya mendadak di siang hari.

Dikutip dari berbagai sumber, secara umum, gerhana matahari terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus sehingga cahaya Matahari tertutup sebagian atau hampir seluruhnya. Dalam gerhana cincin, Bulan berada sedikit lebih jauh dari Bumi sehingga tidak menutup Matahari sepenuhnya dan menyisakan lingkaran cahaya terang di tepinya.

Bagi manusia, kegelapan mendadak di siang hari kerap memicu respons emosional, mulai dari takjub hingga histeria. Namun bagi hewan laut seperti ikan dan penguin, responsnya lebih ditentukan oleh mekanisme biologis yang jauh lebih stabil.

Stephán Reebs, ahli perilaku hewan dari University of Moncton, menjelaskan bahwa banyak ikan memiliki jam biologis internal atau ritme sirkadian yang memberi mereka “rasa waktu.” Dalam penelitiannya pada 1994 terhadap ikan zebra cichlid, ia menemukan bahwa kegelapan sebagian tidak cukup untuk mengubah perilaku harian mereka.

Namun ketika cahaya benar-benar dimatikan, induk ikan segera mengumpulkan anak-anaknya seperti menjelang malam. Artinya, hewan dapat mengabaikan perubahan cahaya sementara, tetapi akan bereaksi jika sinyal lingkungan cukup kuat untuk menyerupai malam hari.

Pandangan ini diperkuat oleh Andrew J. Phillips dari Harvard Medical School, yang menyebut spesies yang bergantung pada penglihatan atau bayangan predator lebih mungkin menunjukkan perubahan perilaku saat gerhana. Pengamatan lapangan mencatat ikan herring di Maine berenang ke permukaan, ikan karang di Galapagos bersembunyi, dan zooplankton naik dari kedalaman, perilaku yang biasanya terjadi saat senja.

Bahkan mamalia laut pernah tercatat mendekati permukaan selama gerhana, seolah merespons perubahan suasana langit. Meski demikian, perubahan tersebut bersifat sementara dan tidak berlangsung cukup lama untuk mengacaukan ritme biologis mereka.

Bagaimana dengan penguin? Studi pada penguin kecil di Australia menunjukkan waktu pulang dan pergi koloni sangat dipengaruhi intensitas cahaya Matahari dan Bulan. Namun para peneliti menilai gerhana hanya akan mengubah perilaku mereka jika terjadi tepat saat matahari terbit atau terbenam, bukan di tengah hari.

Kristin Tessmar-Raible dari University of Vienna menegaskan bahwa jam biologis tidak mudah terganggu oleh perubahan lingkungan yang singkat. Seperti halnya manusia yang butuh waktu untuk pulih dari jet lag, ritme sirkadian hewan juga tidak akan berubah hanya karena beberapa menit kegelapan.

Sejarah juga mencatat berbagai respons satwa selama gerhana. Pada 1932, ahli entomologi William M. Wheeler mengumpulkan hampir 500 laporan publik tentang jangkrik yang mulai berkicau, burung hantu yang berteriak, dan lebah yang kembali ke sarang saat gerhana berlangsung.

Fenomena serupa terjadi pada gerhana total 21 Agustus 2017 di Amerika Serikat, ketika kunang-kunang spesies Photinus pyralis teramati mulai menyala saat fase totalitas. Kegelapan mendadak memicu reaksi kimia pada tubuh mereka yang biasanya digunakan untuk menarik pasangan saat malam tiba.

Dengan demikian, apakah aman jika penguin melihat gerhana matahari cincin? Berdasarkan bukti ilmiah, fenomena ini kemungkinan hanya memicu respons singkat tanpa dampak jangka panjang pada perilaku atau kesehatan mereka.

Gerhana 17 Februari 2026 diperkirakan menjadi panggung alam yang lebih banyak disaksikan koloni penguin daripada manusia. Setelah itu, gerhana matahari cincin berikutnya akan terjadi pada 6 Februari 2027 dan melintasi wilayah Amerika Selatan serta Afrika Barat, menghadirkan kembali pertunjukan kosmik yang selalu memancing rasa ingin tahu. (*)

Sumber: Space, Oceana, Fws, dan berbagai sumber lainnya.

KEYWORD :

Penguin Antartika Gerhana Matahari Cincin 17 Februari Fenomena Astronomi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :