Senin, 16/02/2026 15:06 WIB

Cincin Api Muncul di Antartika, Ilmuwan dan Penguin jadi Saksi Langka





Gerhana matahari pertama tahun ini akan menghiasi langit Antartika dalam fenomena langka yang dikenal sebagai “ring of fire” atau gerhana matahari cincin

Ilustrasi gerhana matahari cincin api (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Gerhana matahari pertama tahun ini akan menghiasi langit Antartika dalam fenomena langka yang dikenal sebagai “ring of fire” atau gerhana matahari cincin. Peristiwa ini hanya dapat disaksikan secara penuh di benua paling selatan Bumi, wilayah terpencil yang menjadi rumah bagi stasiun riset dan koloni satwa liar seperti penguin.

Menurut astronom dari Lowell Observatory, Joe Llama, pemandangan tersebut akan menjadi tontonan luar biasa, termasuk bagi ribuan penguin yang hidup di sana. Namun, hanya segelintir peneliti dan kru ekspedisi yang beruntung dapat menyaksikan langsung momen langka tersebut dari daratan Antartika.

Meski jalur utama gerhana melintasi Antartika, fenomena gerhana sebagian tetap bisa terlihat dari ujung selatan Chile dan Argentina. Selain itu, sebagian wilayah Afrika bagian tenggara seperti Madagascar, Lesotho, dan South Africa juga berpeluang menyaksikan Matahari tampak seperti tergigit sebagian, tergantung kondisi langit cerah.

Secara ilmiah, gerhana matahari terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus sehingga bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi. Dalam kondisi tertentu, bayangan tersebut dapat menutupi sebagian atau seluruh cahaya Matahari yang terlihat dari lokasi tertentu.

Astrofisikawan Emily Rice dari City University of New York menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan “kebetulan kosmik” antara ukuran dan jarak Matahari serta Bulan terhadap Bumi. Kombinasi presisi tersebut memungkinkan keduanya tampak hampir sama besar di langit, meski ukuran aslinya sangat berbeda.

Pada gerhana matahari cincin, Bulan berada sedikit lebih jauh dari Bumi dalam orbitnya sehingga tidak sepenuhnya menutup piringan Matahari. Akibatnya, cahaya Matahari masih tampak sebagai lingkaran tipis terang di sekeliling Bulan, menciptakan efek visual menyerupai cincin api.

Fenomena gerhana matahari sebenarnya terjadi beberapa kali setiap tahun, namun hanya dapat dilihat dari wilayah yang dilewati bayangan Bulan. Tahun lalu tercatat dua gerhana sebagian, sementara gerhana matahari total terakhir melintasi Amerika Utara pada 2024 dan menarik perhatian jutaan pengamat langit.

Para ahli mengingatkan bahwa melihat Matahari secara langsung, bahkan saat sebagian besar tertutup, tetap berbahaya bagi mata. Oleh karena itu, pengamat dianjurkan menggunakan kacamata khusus gerhana yang memenuhi standar keamanan internasional ISO 12312-2 karena kacamata hitam biasa atau teropong tidak memberikan perlindungan memadai.

Selain menggunakan kacamata khusus, masyarakat juga dapat menikmati gerhana secara tidak langsung dengan metode proyeksi sederhana. Lubang kecil pada kertas, saringan dapur, atau parutan keju dapat memproyeksikan bayangan gerhana ke permukaan tanah sehingga tetap aman untuk diamati.

Setelah Antartika, fenomena gerhana matahari total berikutnya dijadwalkan terjadi pada Agustus mendatang dan akan melintasi Greenland, Iceland, Spain, Russia, serta sebagian Portugal. Sementara itu, sebagian wilayah Eropa, Afrika, dan Amerika Utara akan menikmati gerhana sebagian, melanjutkan rangkaian pertunjukan langit yang selalu dinantikan para pengamat astronomi di seluruh dunia. (*)

Sumber: APnews

KEYWORD :

Gerhana Matahari Cincin Api Benua Antartika Penguin Antartika Fenomena Cincin Api




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :