Sabtu, 21/05/2022 23:14 WIB

Alumni Polbangtan Kementan Sosialisasikan Dampak Perubahan Iklim

Berkolaborasi dengan tenaga ahli dari Direktorat Perlindungan Tanaman Dirjen Hortikultura Kementan, Anggota Kelompok Tani (Poktan) Tani Subur Kecamatan Nogosari diberikan penjelasan terjadinya pergeseran musim akibat dampak perubahan iklim (DPI) global.

Kementerian Pertanian (Kementan) melibatkan alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta (Polbangtan YoMa) menyosialisasi dampak perubahan iklim kepada petani Kabupaten Boyolali.

BOYOLALI, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) melibatkan alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta (Polbangtan YoMa) menyosialisasi dampak perubahan iklim kepada petani Kabupaten Boyolali.

Dalam menyosialisasi dampak perubahan iklim tersebut, tim Pendampingan Petani Kabupaten Boyolali yang terdiri dari alumni Polbangtan YoMa, bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

 

Berkolaborasi dengan tenaga ahli dari Direktorat Perlindungan Tanaman Dirjen Hortikultura Kementan, Anggota Kelompok Tani (Poktan) Tani Subur Kecamatan Nogosari diberikan penjelasan terjadinya pergeseran musim akibat dampak perubahan iklim (DPI) global.

"Salah satu dampak dari DPI yang disoroti oleh sektor pertanian ialah terjadinya pergeseran musim yang berakibat pada terjadinya iklim ekstrim seperti El Nino, yang ditandai oleh adanya musim kemarau yang panjang, dan La Nina, yang ditandai oleh musim hujan lebih lama," kata Perwakilan Direktorat Jenderal Perlindungan Tanaman Hortikultura, Agung.

Durasi musim kemarau dan musim penghujan yang tidak menentu juga sangat berpengaruh pada kegiatan pertanian di Nogosari. Pasalnya, lahan pertanian di Nogosari yang didominasi tanaman padi sangat bergantung dengan pasokan air yang cukup.

"Air menjadi faktor penting dalam usahatani padi, kekurangan atau kelebihan air sangat berpengaruh terhadap hasil panennya," jelas Mujahid selaku koordinator Penyuluh Kecamatan Nogosari.

Selama ini pertanian di nogosari bergantung pada pengairan dari saluran irigasi, namun dampak perubahan iklim ini menyebabkan distribusi air yang sering tidak merata saat musim kemarau.

"Musim yang tidak menentu kadang membuat petani menjadi sulit menentukan waktu tanam karena khawatir air irigasi tidak menyukupi kebutuhan seluruh lahan yang ada," sambung Mujahid.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi ini, Kementerian Pertanian melalui Tim Pendampingan Petani Polbangtan YoMa memberikan fasilitas alat mesin pertanian berupa pompa air. Dengan adanya fasilitasi ini diharapkan kelancaran distribusi air terjamin selama musim tanam padi.

Direktur Polbangtan YoMa, Bambang Sudarmanto, berpesan agar fasilitas yang diberikan tidak hanya sebatas pada serah terima saja, namun juga dimanfaatkan dan betul-betul digunakan untuk mendongkrak produktivitas pertanian bersama.

"Kami berharap kepada Tim Pendampingan yang telah kami terjunkan di lapangan untuk dapat mengawal penggunaan fasilitas ini, dan jika ada hambatan dikemudian hari bisa didiskusikan bersama antara petani dan Tim,” pesan Bambang.

Di beberapa kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, mengatakan sosialisasi merupakan salah satu upaya Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan petani.

"Utamanya dalam hal penanggulangan dampak perubahan iklim. Kita membutuhkan strategi dalam menyikapi perubahan iklim dengan cara antisipasi, adaptasi dan mitigasi,” tegas Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pembangunan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menekankan agar SDM Pertanian mampu memanfaatkan informasi iklim sebagai langkah antisipasi dan adaptasi serta memanfaatkan teknologi sebagai upaya mitigasi.

"Ada banyak kegiatan yang bisa degelar untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani dan penyuluh mengenai mitigasi dampak perubahan iklim seperti melakukan pra pelatihan, TOT, atau sosialisasi," kata Dedi.

TAGS : Alumni Polbangtan Polbangtan Yoma Dampak Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :