Minggu, 05/04/2026 02:18 WIB

Alasan Infeksi Daerah Operasi (IDO) Mempersulit Penyembuhan





IDO menyebabkan kematian 3 kali lipat lebih tinggi dan beban biaya yang lebih tinggi
 
 
 

Dr. dr. Warsinggih, Sp.B-KBD, menjelaskan resiko IDO dalam Virtual Media Briefing hari ini (28/10/21) - Foto:JURNAS

Jakarta, Jurnas.com - Hari ini Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI) didukung oleh Essity Indonesia meluncurkan Clinical Practice GuidelineInfeksi Daerah Operasi (IDO) untuk menyelaraskan persepsi dan keseragaman tata laksana bedah, sehingga dapat menurunkan insiden IDO di Indonesia.

Prof. Dr. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS(K), Dokter Spesialis Bedah Saraf Konsultan & Ketua IKABI mengatakan, “Salah satu fokus utama kami adalah penanganan IDO atau Infeksi Daerah Operasi (Surgical Site Infection). Kami sangat gembira dapat meluncurkan Clinical Practice Guideline (CPG) Infeksi Daerah Operasi (IDO) sebagai tata laksana bedah baik bagi dokter spesialis bedah juga dokter spesialis lainnya di seluruh Indonesia.

Prof. Andi Asadul menerangkan bahwa IDO menyebabkan kematian 3 kali lipat lebih tinggi dan beban biaya yang lebih tinggi karena durasi rawat inap yang signifikan lebih tinggi dan diperlukannya intervensi medis tambahan seperti misalahnya operasi ulang, akibat IDO.

Untuk mencegah kerugian akibat IDO dan memperlambat laju resistensi antibiotik, tentunya diperlukan langkah-langkah strategis dari berbagai sektor kesehatan.

Dr. dr. Warsinggih, Sp.B-KBD, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif & Tim penyusun CPG IDO menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan IDO yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

“Faktor risiko tersebut adalah risiko pada penderita terutama dengan komorbid, meliputi hiperglikemia (tingginya kadar glukosa darah yang tidak terkendali), gizi buruk, obesitas, gangguan sirkulasi iskemia (kekurangan suplai oksigen ke organ atau jaringan), hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), dan hipotermia (suhu tubuh rendah),” terang Dr. Warsinggih.

Obesitas merupakan faktor risiko utama sejumlah penyakit yang dapat mempengaruhi keberhasilan operasi. Seseorang dengan obesitas memiliki kemungkinan terpapar IDO sebesar 1.1 – 4.4 kali lipat, dengan sebab yang beragam, antara lain karena peningkatan massa lemak mengakibatkan lemahnya sistim imun sehingga pasien rentan terhadap infeksi.

Selain faktor risiko pada penderita, di dalam CPG - IDO ini terdapat juga faktor risiko mikroorganisme dan faktor lingkungan ruang operasi serta personil bedah yang dapat diminimalisir untuk menurunkan kejadian IDO.

Untuk hasil operasi yang maksimal, semua spesialis bedah yang terlibat dalam perawatan luka pascaoperasi harus memahami dan melakukan pengawasan dalam proses penyembuhan luka operasi termasuk pemilihan balutan pascabedah.

“Terkait tatalaksana pascabedah, CPG IDO ini mengeluarkan rekomendasi antara lain melakukan penggantian balutan dan membersihkan luka 48 jam pascabedah dan melakukan perawatan luka menggunakan balutan interaktif (modern dressing, advanced dressing) yang dilakukan secara selektif dan sesuai indikasi,”tambah Dr. Warsinggih.

Mengenai perawatan luka paska operasi, Dr. Warsinggih menekankan pentingnya menjelaskan kepada pasien atau keluarganya untuk menjaga kondisi luka operasi agar tetap terjaga dengan baik. Untuk penyembuhan yang optimal beberapa hal dapat dilakukan, yaitu:

Pertama, ikuti dengan seksama petunjuk penggunaan obat yang diberikan Dokter dan konsumsi makanan dan minuman yang bergizi.

Kedua, jangan dikelupas apabila terdapat bagian luka yang gatal atau kering.  Biasanya relatif aman untuk mandi setelah 48 jam pascabedah, bila luka operasi ditutup menggunakan balutan / perban yang tahan air (waterproof).

Ketiga, jika diperbolehkan untuk mengganti balutan / perban sendiri, cuci tangan dengan sabun terlebih dahulu dan usahakan tidak menyentuh area luka operasi. Pasang perban secara hati-hati, jangan menyentuh bagian dalam dari balutan, dan tidak mengoleskan krim antiseptik di bawah balutan/perban.

Keempat, jika ada kecurigaan pada luka, misalnya bertambah nyeri, atau berbau tidak sedap, segera konsultasikan kepada Dokter atau tenaga medis lainnya.

IDO dapat terjadi dalam kurun waktu 30 hari paska bedah bahkan 1 tahun bila menggunakan implant. Bagi para dokter spesialis bedah khususnya di negara berkembang, IDO hingga kini masih menjadi masalah serius dan penuh tantangan disebabkan resistensi antibiotik yang tinggi.

KEYWORD :

IKABI Infeksi Daerah Operasi IDO Clinical Practice Guideline




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :