Senin, 03/11/2025 16:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Neraca perdagangan Indonesia pada bulan September 2025 mencatatkan surplus sebesar USD4,34 miliar. Surplus ini menjadi yang ke-65 bulan berturut-turut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, nilai surplus ini terjadi selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
"Surplus pada September 2025 ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas yaitu sebesar USD5,99 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utamanya adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," kata Pudji dalam konferensi pers Rilis BPS, Senin (3/11/2025).
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit sebesar USD1,64 miliar dengan komoditas penyumbangnya adalah hasil minyak dan minyak mentah.
Inilah Ciri-Ciri Mukmin Sejati Menjelang Kematian
Berbagai Peristiwa Bersejarah Tanggal 18 April dari Masa ke Masa
Pramono Soroti Komunikasi BUMD Belum Berjalan Baik Karena Ego Tinggi
Secara kumulatif Januari hingga September 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar USD33,48 miliar.
"Surplus sepanjang Januari hingga September 2025 ini lebih ditopang oleh surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar USD47,20 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD13,71 miliar," ungkap Pudji.
Berdasarkan data BPS, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan beberapa negara dengan tiga terbesar yakni Amerika Serikat USD13,48 miliar, India USD10,45 miliar, dan Filipina USD6,54 miliar.
Sementara itu, Indonesia mengalami defisit dengan China sebesar -USD14,32 miliar, Singapura -USD3,43 miliar, dan Australia -USD4,01 miliar.
Untuk neraca perdagangan kelompok nonmigas, tiga penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat USD15,70 miliar, India USD10,52 miliar, dan Filipina USD6,45 miliar.
Sedangkan penyumbang defisit terdalam pada kelompok nonmigas adalah China -USD15,60 miliar, Australia -USD3,38 miliar, dan Thailand -USD1,29 miliar.