INTERNASIONAL

Luncuran Rudal Korut Dituding Provokasi Perang

Sufiyanto | Rabu, 30/08/2017 08:26 WIB

Pakar Amerika Serikat mengatakan, butuh sanksi yang lebih ketat jika ingin menghentikan provokasi Korea Utara (Korut) di Semenanjung Korea Foto yang dirilir Korean News Agency ini menunjukkan rudal Hwasong-14 milik Korut (Foto: Reuters)

Washington – Pakar Amerika Serikat mengatakan, butuh sanksi yang lebih ketat jika ingin menghentikan provokasi Korea Utara (Korut) di Semenanjung Korea.

Penembakan rudal balistik jarak menengah yang melintasi Jepang merupakan tindakan bermusuhan yang jarang terjadi . Amerika Serikat dan Korea Selatan harus mengambil tindakan tegas yang  tidak mengizinkan Pyongyang  lolos dari berbagai provokasi apapun lagi, dan China, kata mereka, memainkan peran kunci dalam usaha itu.

“China memiliki kekuatan menekan Korea Utara dan harus mengambil langkah yang tepat dan tegas,” kata Donald Manzullo, presiden Institut Ekonomi Korea Amerika.

“Semakin lama China menahan diri untuk tidak menggunakan semua pengaruh meyakinkan Korea Utara agar kembali melakukan dialog, Korea Utara kemungkinan besar akan terus melakukan tindakan provokatif,“ tambahya

Bruce Bennett, seorang peneliti senior di RAND Corp., mengatakan, keberhasilan melepas tiga rudal pada Selasa bukti kurangnya tindakan AS dan Korea Selatan.

“Jika AS dan Korea Selatan gagal menekan uji coba rudal Pyongyang, maka, Korea Utara kembali akan melakukan provokasi yang lebih serius lagi, bahkan kemungkinan juga uji coba rudal balistik antar benua atau senjata nuklir lainnya,” katanya melalui pesan email

Bennett mengacu pada latihan militer Ulchi Freedom Guardian yang saat ini sedang berlangsung antara Korea Selatan dan Analis AS mengatakan provokasi kembali akan berulang sebagai tanggapan terhadap latihan tahunan kedua negara tersebut yang disebut Pyongyang  latihan invasi.

Korea Utara mungkin juga percaya bahwa pihaknya mendapat dukungan China,  karena Beijing baru-baru ini mengusulkan agar sekutunya membatalkan latihan mereka dengan imbalan penghentian rudal dan uji coba nuklir Korea Utara, katanya.

Robert Manning, seorang anggota senior di Dewan Atlantik, mengatakan Dewan Keamanan UN cenderung menerapkan sanksi yang lebih keras terhadap Pyongyang.

“Mungkin ada langkah lain yang ingin dilakukan Trump untuk menekan Pyongyang adalah cyber atau kinetik. Namun ertanyaan utamanya, Seberapa jauh China bersiap untuk pergi?" Katanya dalam email terpisah.

“Jika fektif, sanksi akan memberi dampak sembilan, 12 hingga 15 bulan. Bahayanya adalah, siklus ketegangan ini meningkat sampai pada titik di mana AS mencari hasil yang lebih cepat, itu bisa menjadi bencana besar.“