Rabu, 03/03/2021 02:44 WIB

Militer Filipina Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Abu Sayyaf Group

Sawadjaan masuk dalam daftar teroris global Amerika Serikat (AS)  pada tahun 2019 dan disebut sebagai dalang di balik pemboman katedral yang mematikan pada tahun yang sama. 

Kelompok ISIS

Manila, Jurnas.com - Militer Filipina mengkonfirmasi kematian Hatib Hadjan Sawadjaan, salah satu pemimpin tertinggi dari kelompok ekstremis Abu Sayyaf Group (ASG) dan pemimpin Daesh (Islamic State Iraq and Syria/ISIS) yang diangkat di Mindanao.

Sawadjaan masuk dalam daftar teroris global Amerika Serikat (AS)  pada tahun 2019 dan disebut sebagai dalang di balik pemboman katedral yang mematikan pada tahun yang sama. Serangan itu, menewaskan 23 orang dan melukai 109 orang.

Pihak berwenang sebelumnya mengatakan, Sawadjaan menderita luka fatal selama pertemuan dengan pasukan pemerintah di hutan dekat kota Patikul, provinsi Sulu, pada Juli. Namun belum ada konfirmasi resmi hingga Selasa (3/11).

Kepala Komando Mindanao Barat (Westmincom) Letnan Jenderal Corleto Vinluan Jr. mengkonfirmasi kematian Sawadjaan, mengatakan tidak ada lagi penampakan dirinya.

"Menurut saksi mata dia meninggal pada 7 Juli setelah baku tembak sengit dengan Scout Rangers pada 6 Juli," kata Vinluan kepada Arab News.

Selain pemboman Katedral Jolo, Sawadjaan juga dituduh berada di balik serangan bunuh diri di provinsi Basilan yang diyakini dilakukan oleh seorang militan Maroko.

Sawadjaan juga mengawasi penculikan kepala biro Arab News Asia Baker Atyani pada tahun 2012 saat bekerja untuk Al Arabiya. Atyani ditahan selama 18 bulan oleh kelompok tersebut sebelum dibebaskan pada Desember 2013.

Pengumuman kematian Sawadjaan menyusul bentrokan di laut antara pasukan pemerintah dan militan sebelum fajar pada Selasa (3/11). Dalam bentrokan ini, tujuh pejuang ASG tewas, termasuk yang diduga penerus pemimpin militan dan dua anggota klan Sawadjaan lainnya.

Vinluan mengatakan pasukan dari Joint Task Force - Sulu mencegat anggota ASG di atas speed boat bermesin ganda di perairan terbuka laut Sulu sekitar pukul 2:15 pagi.

Militer mengirimkan helikopter serang dan kapal serang serba guna setelah mendapat informasi tentang rencana kelompok itu untuk melakukan kegiatan penculikan.

"Terjadi baku tembak yang berlangsung selama 25 menit dan mengakibatkan kapal tenggelam yang dimanfaatkan kurang lebih tujuh anggota ASG," tambah Vinluan.

Ia mengidentifikasi tiga dari mereka yang diyakini telah dibunuh sebagai Mannul Sawadjaan, Mujapar Sawadjaan, dan Madsmar Sawadjaan.

Mannul dan Mujapar adalah sepupu ahli bom ASG Mundi Sawadjaan, yang diyakini berada di balik bom bunuh diri ganda pada bulan Agustus di Jolo, sedangkan Madsmar adalah saudara laki-laki Mundi. Pemboman tersebut menewaskan 14 orang dan melukai 75 orang.

Vinluan mengatakan Mannul telah dipilih untuk menggantikan Hatib, menurut anggota ASG yang telah menyerah.

Vinluan mengatakan pasukan pemerintah, saat melakukan operasi pencarian dan pengambilan, melihat kapal yang digunakan oleh anggota ASG.

"Kapal itu dibelah dua dengan bagian depan hanya tersisa mengapung sedangkan bagian belakang harus tenggelam saat ditabrak oleh kapal angkatan laut-BA493," katanya.

Pasukan menggeledah sisa kapal dan menemukan senjata api, peluru amunisi, magasin, bandolier, ransel, dan palu godam.

"Kami akan terus melakukan operasi militer, memaksimalkan pemantauan intelijen, dan menggunakan segala cara untuk mendahului kegiatan teroristik Kelompok Abu Sayyaf di Sulu," kata Vinluan.

Komandan Satuan Tugas Gabungan-Sulu Mayjen William Gonzales mengatakan, "Pencapaian khusus ini adalah hasil dari upaya persatuan kami dengan masyarakat provinsi, khususnya Tausug bersaudara, dalam membawa perdamaian dan pembangunan abadi di Sulu.”

TAGS : Militer Filipina Abu Sayyaf Group Hatib Hadjan Sawadjaan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :